Dampak demensia telan 1 persen GDP

Dampak demensia menelan lebih dari 1% Produk Domestik Bruto dunia tahun ini, atau sebesar US$ 604 miliar, kata pakar.

Suatu laporan penelitian yang dinamai The World Alzheimer mengatakan, angka itu lebih dari pendapatan raksasa bisnis ritel asal AS, Wal-Mart ataupun raksasa industri perminyakan Exxon Mobil.

Penyusun laporan mengatakan demensia menimbulkan krisis kesehatan dan sosial paling signifikan abad ini, sementara beban keuangan yang ditimbulkan penurunan daya ingat itu terus meningkat di seluruh dunia.

Sekitar 70 persen dari biaya itu dikeluarkan Eropa barat dan Amerika utara.

Para peneliti ini menghitung biaya perawatan jalan dan rawat inap, disamping bantuan dari keluarga yang tidak diperhitungkan sebagai pengeluaran.

Penyusun laporan ini mengatakan demensia sudah berdampak besar pada seluruh sistem perawatan kesehatan dan sosial di dunia, sementara dampaknya terhadap situasi ekonomi keluarga juga tidak diperhitungkan dengan semestinya.

Mereka menghendaki Organisasi Kesehatan Dunia, WHO, agar menjadikan demensia sebagai prioritas dunia.

Para peneliti memandang penemuan obat baru yang lebih efektif merupakan tantangan besar yang memerlukan tanggapan internasional setara dengan penanganan HIV.

'Investasi besar'

Kalangan aktivis kampanye penanggulangan demensia mengatakan investasi lebih besar dalam perawatan dan penelitian pengobatan demensia diperlukan.

Membelanjakan lebih banyak dana sekarang akan menghasilkan penghematan lebih besar di masa datang akibat penurunan beban yang ditimbulkan gangguan kesehatan tersebut, kata mereka.

Salah satu masalah besar yang muncul adalah semakin banyak orang yang berumur panjang. Ketika usia harapan hidup meningkat di seluruh dunia, semakin banyak banyak orang yang menderita demensia.

Tim peneliti dari King's College London dan Institut Karolinska Swedia memperingatkan bahwa kasus demensia meningkat pesat di wilayah seperti Cina, India dan Amerika Latin.

Jumlah orang yang mengidap demensia diperkirakan berlipat dua paling lambat tahun 2030, dan berlipat tiga paling lambat 2050.

Namun, para pakar menyatakan biaya merawat penderita demensia mungkin akan naik lebih cepat daripada jumlah penderita, khususnya di negara sedang berkembang, ketika sistem perawatan sosial resmi bermunculan dan kenaikan pendapatan menyebabkan besaran opportunity cost naik.

Data dari masing-masing negara, seperti Inggris, menunjukkan demensia sudah menjadi salah satu penyakit paling mahal.

Laporan bertajuk The World Alzheimer memadukan data yang tersedia dan pemahaman mutakhir atas ongkos ekonomi demensia di tataran internasional.

Berita terkait