Virus Stuxnet serang Iran

Virus Stuxnet menargetkan peralatan buatan Siemens
Image caption Sekitar 30 ribu alamat Internet Protokol di Iran disusupi virus

Satu virus komputer yang kompleks menyusupi komputer-komputer pribadi milik staf stasiun pembangkit tenaga nuklir pertama Iran, demikian lapor kantor berita nasional Iran, IRNA.

Namun begitu, sistem operasi di stasiun pembangkit nuklir Bushehr, yang dijadwalkan akan online dalam beberapa minggu ini, tidak terkena, kata manajer produksi Mahmoud Jafari.

Virus bernama Stuxnet ini berkemampuan menunggangi pengawasan pembangkit ini.

Beberapa ahli komputer dari negara Barat mengatakan kerumitan virus ini mengisyaratkan bahwa penyusupan virus hanya bisa dilakukan oleh sebuah "negara".

Ini adalah pertanda awal bahwa Stuxnet yang menjadikan sistem-sistem produksi perusahaan Jerman, Siemens sebagai sasaran, berhasil sampai pada peralatan-peralatan yang terkait dengan program nuklir Iran.

Pihak Barat mengkhawatirkan bahwa tujuan utama Iran adalah membangun senjata nuklir. Sementara Iran selalu mengatakan tujuan program itu benar-benar untuk menghasilkan energi untuk kepentingan damai.

Stuxnet dirancang untuk menyerang kelemahan sistem pada peralatan buatan Siemens yang digunakan untuk mengatur pasokan air, anjungan pengeboran minyak dan pembangkit tenaga listrik.

Perang elektronik

Fakta bahwa Stuxnet sekarang bisa dideteksi di komputer-komputer pribadi milik staf Busher, tidak mempengaruhi jadwal operasi Busher yang diperkirakan akan berjalan mulai bulan depan, demikian penjelasan Jafari.

Satu tim sedang berusaha menghapus perangkat lunak yang berbahaya ini atau dikenal dengan sebutan malware dari beberapa komputer yang terinfeksi, jelas Jafari kepada IRNA.

Virus komputer Stuxnet adalah virus pertama yang diyakini dirancang khusus untuk menyerang fasilitas-fasilitas infrastruktur yang besar.

"Perang elektronik sudah dilancarkan terhadap Iran", kata Mahmud Liayi, ketua dewan teknologi informasi di Kementrian Perindustrian Iran kepada koran Iran Daily.

Satu kelompok kerja yang terdiri dari para ahli bertemu minggu lalu untuk membicarakan cara memerangi virus ini yang menurut Liayi, menyusupi sekitar 30.000 alamat Internet Protokol atau IP address di Iran.

Berita terkait