Mata-mata Iran ditangkap di Afghanistan

Tentara NATO
Image caption NATO aktif di distrik Zheri, Kandahar, tempat penangkapan agen Iran

Sejumlah pejabat Barat di Afghanistan mengatakan mereka menangkap seorang agen mata-mata Iran yang diduga menyelundupkan senjata untuk kelompok Taliban di Afghanistan.

Agen mata-mata ini disebut-sebut adalah seorang anggota Garda Revolusi Iran dan digambarkan sebagai perantara senjata yang memiliki hubungan langsung dengan pemimpin Taliban di Provinsi Kandahar.

Orang itu ditangkap "karena memfasilitasi pergerakan senjata dari Iran dan Kandahar melalui Provinsi Nimruz," kata juru bicara pasukan internasional pimpinan NATO.

Dia ditangkap di distrik Zheri, Kandahar, provinsi yang diketahui sebagai tempat lahir gerakan Taliban dan kini menjadi fokus operasi NATO. Orang tersebut ditangkap pada Sabtu lalu.

Baru pertama diumumkan

Wartawan BBC Mark Dummet melaporkan bahwa para pejabat keamanan Afghanistan seringkali mengeluh secara diam-diam tentang dukungan Iran terhadap Taliban, tetapi mereka takut untuk mengungkapkannya di depan umum karena Afghanistan tidak mau menimbulkan masalah dengan negara tetangganya.

Ketergantungan Afghanistan terhadap Iran terbukti lagi pada Kamis (23/12) ketika kapal-kapal pengangkut minyak dihentikan di perbatasan tanpa alasan jelas.

Salah seorang pejabat keamanan Afghanistan mengatakan bahwa sejumlah agen mata-mata Iran lainnya telah ditangkap baru-baru ini, tetapi penangkapan mereka dirahasiakan.

Jelas tidak mungkin mengetahui berapa besar bantuan yang diterima Taliban dari Iran, tetapi sejumlah pejabat Afghanistan yakin Iran telah membantu melatih Taliban dalam menggunakan bahan peledak, lapor Mark Dummet.

Berita tentang penangkapan anggota Garda Revolusi, yang merupakan penangkapan pertama yang diumumkan ini, terungkap menyusul pemberitaan media yang menyebutkan bahwa Iran membebaskan beberapa agen al-Qaida yang sebelumnya ditahan di negara itu.

Mereka kemudian didorong untuk kembali ke Afghanistan.

Laporan ini tidak bisa dikukuhkan kebenarannya tetapi para pejabat keamanan Afghanistan mengatakan laporan tersebut bisa dipercaya.

Berita terkait