Prancis gagal bebaskan korban penculikan di Niger

Tentara Niger
Image caption Sudah delapan warga Prancis diculik di Niger sejak April lalu

Pemerintah Prancis mempertahankan keputusannya menerjunkan kekuatan bersenjata untuk membebaskan dua warganya yang diculik di wilayah Niger meskipun akhirnya upaya itu dianggap gagal setelah kedua korban ditemukan tidak lagi bernyawa.

Menteri pertahanan Prancis Alain Juppe yang mengunjungi Niger, mengatakan upaya tersebut penting untuk menghindarkan kesan bahwa negerinya tidak lagi berupaya memerangi aksi terorisme.

Menurut Juppe hampir tak ada keraguan bahwa kelompok militan Afrika Utara, Al-Qaeda di wilayah Islam Magribi (AQIM), terkait dengan penculikan itu.

Upaya pembebasan yang gagal ini merupakan kali kedua dari serangkaian upaya membebaskan warga Prancis di wilayah Gurun Sahel sebelumnya dalam setahun terakhir.

Sudah delapan warga Prancis diculik di wilayah ini sejak April tahun lalu.

Terus melawan

Tidak jelas bagaimana kedua korban tewas setelah ditemukan tim penyelamat.

Kantor Berita AP mengutip pernyataan Juppe hari Minggu yang menyebut keduanya dieksekusi penculik.

"Semua bukti meyakinkan kami... bahwa mereka dieksekusi," kata Juppe.

Presiden Nicolas Sarkozy juga menyebut penculik sebagai pelaku pembunuhan atas Antoine de Leocour dan Vincent Delory.

De Leocour akan menikahi seorang perempuan setempat sepekan mendatang, sementara Delory direncakan jadi pengiring pengantin prianya.

Keduanya diculik oleh empat laki-laki bersenjata di sebuah restoran di Niamey, ibukota Niger, Jumat malam lalu.

Sejumlah tentara Prancis telah dikerahkan di kawasan gurun Sahel dimana militer AS memberikan pelatihan terhadap aparat bersenjata.

Sarkozy menegaskan kembali hari Minggu, bahwa Prancis bertekad untuk terus melawan terorisme.

"Kami tidak akan pernah menyerah pada keinginan teroris," kata Sarkozy ditengah kunjungannya ke Guadalupe, sebuah koloni Prancis di kawasan Karibia.

Berita terkait