Oposisi melihat kesempatan setelah era Mubarak

Warga Mesir bergembira Hak atas foto AP
Image caption Mubarak pergi meninggalkan kegembiraan dan harapan bagi warga Mesir

Presiden Mubarak masih berada di istana peristirahatannya di Laut Merah di resort Sharm el-Sheikh.

Tidak jelas sampai kapan Mubarak akan memilih bertahan disana.

Menurut Sekjen Liga Arab Amr Moussa, yang juga seorang warga Mesir, pengunduran diri Mubarak merupakan kesempatan untuk membangun konsensus nasional dan masa depan yang didasarkan pada demokrasi.

Sementara seorang tokoh kubu oposisi dari kelompok Persaudaraam Muslim, Essam el-Erian, mengatakan warga Mesir akan mencari bentuk politik baru ke depan.

Sementara tokoh oposisi lain, Mohammed ElBaradei, mengatakan negerinya telah dibebaskan setelah bertahun-tahun penindasan.

Sementara lapangan Tahrir mulai lengang setelah puluhan ribu demonstran di Kairo melewatkan Jumat malam dengan merayakan lengsernya Mubarak.

Pada saat fajar merekah, banyak warga yang meninggalkan Tahrir untuk kembali bekerja.

Meski demikian militer tetap mempertahankan tank dan kendaraan lapis bajanya di jalan-jalan, terutama diluar bangunan penting.

Strategi Timur Tengah

Sementara kantor berita AP menulis begitu Mubarak mundur, Presiden Barack Obama langsung mengirim penasehat militer seniornya menuju Timur Tengah hari Sabtu (12/02) untuk meyakinkan para sekutu utama -yakni Yordanai yang juga menghadapi tuntutan mirip dengan yang terjadi di Mesir, serta Israel yang khawatir terhadap perkembangan terbaru di Jazirah Arab.

Laksamana Mike Mullen, Panglima Angkatan Bersenjata AS, akan mendarat di Amman untuk sebuah pertemuan hari Minggu besok dengan para pejabat Yordania termasuk raja Abdullah II. Sudah terjadi aksi protes sepanjang lima minggu di Yordania setelah kerusuhan di Tunisia dan kemudian Mesir, meski jumlah demonstran terus menurun.

Mullen juga akan menuju Tel Aviv untuk sebuah peringatan masa pensiun koleganya dari Israel Letjen Gabi Ashkenazi pada hari Minggu, dan Senin berikutnya akan bertemu PM Benjamin Netanyahu dan Presiden Shimon Peres.

Para analis menyebut bahwa AS sedang menghadapi pertaruhan besar dengan perubahan konstelasi politik di Mesir yang kini menghendaki demokrasi setelah tiga dekade berada dibawah otokrasi Mubarak dimana Washington merupakan pendukung dan penyokong dana utamanya.

Baik Yordania maupun Mesir sebelumnya memainkan peran penting dengan AS, dalam isu perdamaian Israel-Palestina maupun isu ekonomi karena Mesir juga mengontrol Terusan Suez, salah satu rute utama dunia untuk pengapalan minyak.

Berita terkait