Mesir, terlalu dini berpesta?

Terbaru  12 Februari 2011 - 11:11 GMT
Mesir

Baru langkah pertama menuju reformasi demokrasi

Kepergian Husni Mubarak bukan berarti pihak demokrat sudah menjadi pemenang.

Setelah 18 hari melakukan unjuk rasa bersejarah, Lapangan Tahrir akhirnya mempunyai alasan untuk menembakkan kembang api menerangi langit Kairo.

Sepertinya tidak perlu lagi untuk mempertanyakan perubahan paling besar di dunia Arab dalam puluhan tahun.

Tetapi revolusi ini sebenarnya tersendat setiap kali akan melangkah maju. Kelompok demokrat belum mencapai kemenangan karena turunnya Mubarak.

Dalam beberapa jam setelah itu menteri keuangan Mesir muncul di televisi menyampaikan janji bahwa "oligarki" kekuasan di tangan sekelompok orang juga akan dihapus.

Tetapi selama enam puluh tahun kekuasaan kelompok sipil dan militer sudah sangat mengakar.

Peliharaan Mubarak

Tantawi

Penguasa semenara Mesir adalah Kepala Dewan Militer, Mohamed Tantawi.

Militer berusaha mempertahankan dalam dua minggu terakhir. Mereka mendampingi pengunjuk rasa tetapi tetap tidak menindak kekerasan yang dilakukan pendukung Mubarak dan menerima janji reformasinya sampai titik tertentu.

Mereka melakukan hal ini karena pihak militer akan mengalami kerugian besar dari segi keuangan maupun politik dari reformasi demokrasi.

Disamping itu, jika pemerintah baru berusaha menerapkan kebijakan sendiri terhadap Israel atau Hamas, militer tidak ingin merusak aliran bantuan Amerika Serikat.

Hal ini akan memicu keadaan mirip yang terjadi di Pakistan dimana pemimpin terpilih tidak memiliki kekuasaan kebijakan luar negeri.

Tokoh yang sekarang berkuasa adalah Menteri Pertahanan Mohamed Tantawi. Dia mewakili kelompok perlawanan di dalam rezim, yang kemungkinan ingin menjatuhkan pemimpinnya tetapi tetap mempertahankan intinya. Tantawi dikenal sebagai "anjing poodle peliharaan Mubarak".

Menurut Wikileaks, dia sangat "menolak reformasi ekonomi dan politik yang dianggap mengikis kekuasaan pemerintah pusat". Ini jelas bertentangan dengan revolusi.

Dia kemungkinan besar hanya akan membangun kembali otokrasi kekuasaan satu orang dengan memberikan kekuasaan yang tidak berarti kepada kelompok oposisi yang terpecah. Dia akan menghidupkan kembali militer Perang Dingin.

Sejumlah pihak mendukung penerapan "model Turki" untuk Mesir, tetapi mereka kemudian menyadari bahwa militer Turki menjatuhkan empat pemerintahan sejak tahun 1960 dan masih tetap berkuasa di balik lembaga demokrasi.

"Tuntutan Obama kemungkinan tidak akan didukung Amerika jika pemerintah memandang kekuasaan lama tetap akan menentukan hal-hal yang dianggap penting Amerika"

Meskipun demikian bukankah tekanan Amerika akan memaksa elit militer menerapkan reformasi?

Jumat malam Presiden Barack Obama mengatakan "sejarah akhirnya mengarah ke keadilan".

Tetapi dalam dua minggu terakhir Washington hanya mengawasi dari jauh. Ketika rezim sepertinya mendapatkan dukungan militer, Gedung Putih tidak bereaksi.

Iran, Hisbulah, Inggris dan Amerika Serikat sama-sama kesulitan mengikuti pergerakan massa.

Iran menyatakan unjuk rasa sebagai revolusi Islamis, sementara Obama berusaha menempatkan Amerika pada posisi yang tepat.

Keinginan Obama kemungkinan tidak akan didukung Amerika jika pemerintah memandang kekuasaan lama tetap akan menentukan kepentingan Washington.

Banyak jebakan

Unjuk rasa anti Mubarak

Unjuk rasa anti Presiden Mubarak melibatkan banyak pihak.

Kanselir Jerman Angela Merkel mendesak "pemerintah Mesir masa depan mendukung perdamaian Timur Tengah dan menghormati traktat dengan Israel".

Ini masuk akal, tetapi juga mengisyaratkan rendahnya harapan masyarakat dunia tentang kualitas demokrasi pemerintahan baru Mesir.

Dalam enam tahun terakhir terbukti bahwa penerapan demokrasi terhapus setelah pemilihan umum dilaksanakan di Libanon dan Palestina.

Kekhawatiran yang tidak berdasar tentang Ikhwanul Muslimin juga mengalami kegagalan.

Jalan menuju demokrasi menghadapi banyak masalah meskipun militer menyerahkan kekuasaan ke dewan oposisi menyeluruh dan tidak menerapkan reformasi besar-besaran.

Begitu kegembiraan berkurang, tekanan sosial yang menjadi pemicu terjadinya unjuk rasa akan menyerang pemerintahan baru yang tidak berpengalaman dan rapuh.

Ketidakstabilan telah merusak ekonomi Mesir.

Desakan peningkatan subsidi pangan akan terjadi bersamaan dengan gangguan terhadap bisnis pariwisata. Jika pemerintah tidak dapat menggaji pekerja dan menjamin kesejahteraan sosial, kemungkinan besar kekuatan anti demokrasi yang akan diuntungkan.

Realisme dan sinisme memang tidak terlalu berbeda.

Kelompok demokrat Mesir telah memberikan harapan. Unjuk rasa melibatkan semua pihak. Umat Kristen dan Islam saling melindungi menghadapi polisi. Mobilisasi besar-besaran menciptakan kekuatan politik baru Mesir yang akan menentukan demokrasi masa depan.

Tetapi kegembiraan karena keberhasilan revolusi dapat menutupi tantangan yang sebenarnya harus dihadapi.

Ketika pesta kembang api berakhir, Mesir harus realistis jika mereka ingin menerapkan janji kebebasan pasca Mubarak.

Link terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.