Sastrawan Ratna Indraswari meninggal

Ratna Indraswari
Image caption Ratna Indraswari mengaku dunia sastra telah memberinya daya hidup.

Satrawan Ratna Indraswari Ibrahim meninggal dunia di usia 61 tahun setelah menderita stroke. Menurut rencana jenazah sastrawan yang sejak usia 10 tahun mengalami kelumpuhan akibat rachitis ini akan dikebumikan di taman makam pemakaman Samaan Malang Jawa Timur pukul 13.00 WIB.

Sastrawan Ratna Indraswari Ibrahim semasa hidupnya mampu melahirkan karya sastra secara produktif, walaupun kemampuan fisiknya nyaris tidak berfungsi, kesetiaan berkarya Ratna di dunia sastra ditandai dengan lebih dari 400 karya cerpen dan novel yang dihasilkannya sejak usia remaja hingga akhir hayatnya.

Selain melahirkan belasan buku kumpulan cerpen, karya-karya perempuan kelahiran Kota Malang, 24 April 1949 ini beberapakali terpilih masuk dalam kumpulan cerita pendek harian Kompas.

Dua novelnya yang berjudul Bukan Pinang Dibelah Dua (2003) dan Lemah Tanjung (2003) juga ikut menyemarakkan perjalanan sastra Indonesia moderen.

Karena keterbatasan fisik, Ratna memang tidak mampu mengetik atau menulis.

Untuk itulah, Ratna dibantu seorang asisten lainnya (namanya Slamet) untuk mengetik kalimat demi kalimat yang dia utarakan -yang kelak melahirkan cerpen atau novel.

Dalam berbagai kesempatan, Ratna kemudian menyebut aktivitasnya itu sebagai "sastra lisan".

Pencapaian itu, tambah Ratna, juga tidak terlepas dari peran orang tuanya yang sejak awal tidak mengistimewakan dirinya karena kelumpuhannya itu.

Pernah atheis

Dalam perjalanan hidupnya, sebagai difabel, Ratna mengaku pernah mengalami masa-masa yang disebutnya sebagai "kemarahan usia remaja".

Saat diwawancara BBC dalam program Tokoh Ratna mengaku sempat menolak keberadaan Tuhan.

"Saya marah kepada Tuhan, lima saudara saya cantik-cantik, kok saya nggak cantik, dan cacat lagi," tutur Ratna, membuka kisah ini.

Ratna kecil kemudian memproklamasikan dirinya sebagai ateis.

"Sudah, saya nggak mau kenal Kamu (Tuhan), saya mulai sekarang atheis," ungkap Ratna, yang sejak kecil sudah dikenalkan buku-buku bertema 'berat' milik mendiang ayahnya.

Sikap seperti ini kemudian dia utarakan kepada ibunya.

Bagaimana reaksi sang ibu?

"Tidak apa-apa. Nanti kalau kamu memasuki usia 50 tahun, kamu nanti kembali ke Tuhan," ujar Ratna menirukan jawaban ibunya.

Jawaban sang ibu, belakangan disyukuri sepenuhnya oleh Ratna. "Saya dibiarkan belajar dari alam," kata Ratna lagi.

Dan apa yang terjadi saat usia Ratna mendekati usia 50 tahun?

"Nyatanya memang iya. Siapa yang membantu saya selama ini, 'kan Tuhan..."

Berita terkait