Presiden Suriah bertekad atasi 'makar'

Bashar al assad Hak atas foto AFP

Presiden Suriah Bashar al-Assad memberitahu parlemen bahwa Suriah akan mengalahkan pihak-pihak di balik "makar" terhadap negaranya.

"Suriah menjadi sasaran satu rencana makar dari luar -waktu, bentuknya telah dipercepat," ujarnya.

Warga "ditipu" untuk turun ke jalan, ujarnya, dalam pidato pertama sejak aksi demonstrasi anti pemerintah terjadi dua minggu.

Lebih dari 60 orang tewas akibat protes dengan kekerasan yang dimulai di kota Deraa, Suriah selatan.

"Deraa berada dalam kalbu setiap warga Suriah," ujar Assad. Dia menambahkan kota itu berada di garis depan dengan Israel, musuh Suriah.

Dia beberapa kali diinterupsi oleh anggota Parlemen yang dengan semangat memperlihatkan dukungan mereka.

Assad mengatakan Suriah perlu melakukan reformasi dan setiap pemimpin harus mendengar suara rakyat.

"Kita telah melakukan reformasi sendiri, tetapi bukan karena tekanan," ujar pemimpin Suriah itu. "Siapapun yang ingin reformasi, kami siap," tegasnya.

"Reformasi bukan musiman. Tidak ada hambatan apapun bagi reformasi."

Dukungan warga

Assad sebelumnya diperkirakan akan mengumumkan pencabutan keadaan darurat yang sudah berlaku selama 50 tahun terakhir.

Dia tidak melakukan itu namun menegaskan sebuah rancangan Undang-Undang soal ini -ditambah reformasi lain- memakan waktu lama dalam pembuatannya.

Pada hari Selasa (29/03), kabinet pemerintah mengundurkan diri dan sekelompok besar warga turun ke jalan untuk mendukung Presiden Assad.

Sejumlah media melaporkan banyak para pendukung itu dikerahkan oleh pemerintah.

Kantor berita Reuters melaporkan para anggota serikat buruh yang dikendalikan Partai Baath mengatakan diperintahkan untuk ikut aksi demonstrasi tersebut.

Kabinet baru -yang akan memegang peran dalam penerapan reformasi- akan dibentuk akhir minggu ini.

Di persimpangan jalan

Hak atas foto AP
Image caption Suriah berada di persimpangan jalan secara politis

Undang-Undang Keadaan Darurat yang sekarang berlaku mengatur bahwa pasukan keamanan memiliki hak untuk melakukan penangkapan dan penahanan.

Pemerintah Suriah dilaporkan sedang mempelajari pembebasan hukum media dan partai-partai politik ditambah juga peraturan anti korupsi.

Pelonggaran kebebasan sipil dan politik diperkirakan akan segera diterapkan.

Seorang pegiat hak asasi manusia, Aktham Nuaisse, mengatakan negara itu berada di "persimpangan jalan".

"Apakah presiden mengambil langkah reformasi drastis atau negara ini akan terjerumus dalam sejumlah skenario kelam. Jika dia berniat membawa Suriah ke arah transformasi demokrasi, dia akan didukung oleh rakyat Suriah," ujarnya seperti dikutip kantor berita AP.

Para pengamat mengatakan terjadi perpecahan dalam kepemimpinan Suriah dalam cara mengatasi krisis ini -satu kelompok mendukung langkah penangkapan kaum pembangkang sementara kelompok lain lebih memilih dialog.

Aksi kerusuhan ini menjadi ancaman terbesar terhadap pemerintahan Presiden Assad yang menggantikan ayahnya Hafez yang meninggal tahun 2000.

Kerusuhan ini dimulai setelah sejumlah remaja yang menulis grafiti anti pemerintah di kota Deraa ditangkap, dan dengan cepat menyebar ke propinsi lain.

Berita terkait