Jumlah tahanan politik Korut bertambah

Terbaru  4 Mei 2011 - 09:26 WIB

Peta satelit yang menunjukkan lokasi serta ukuran luas kamp tahanan Korea Utara.

Amnesti Internasional dalam laporan terbarunya mengatakan dalam satu dekade terakhir jumlah tahanan politik di Korea Utara bertambah dalam jumlah yang signifikan.

Organisasi yang bermarkas di London itu memperkirakan saat ini tidak kurang dari 200.000 orang berada dalam kamp-kamp tahanan yang kondirinya sangat menyedihkan.

Laporan ini semakin menegaskan kesaksian seorang tahanan yang menyatakan kondisi mengerikan di dalam tahanan misalnya hukuman mati yang digelar di depan publik dan para tahanan harus makan tikus demi bertahan hidup.

Sejumlah eks tahanan di kamp Yodok dan beberapa tempat lainnya seperti dikutip dalam laporan Amnesti Internasional mengatakan para tahanan dipaksa bekerja keras seperti budak.

Para tahanan itu juga kerap disiksa dan para penjaga memperlakukan mereka seperti binatang. Bahkan, salah seorang saksi mengatakan pernah melihat hukuman mati di depan publik.

Selain kesaksian para eks tahanan, Amnesti juga menerima gambar satelit yang menunjukkan lokasi dan ukuran luas kamp-kamp tahanan itu.

Dibandingkan gambar satelit tahun 2001, skala luasan kamp-kamp tahanan berkembang secara signifikan.

"Jika kami tidak hafal 10 kode etik, maka kami dilarang tidur"

Jeong Kyoungil

"Saat Korea Utara tengah mempersiapkan Kim Jong-Un sebagai pemimpin baru dan tengah berada dalam instabilitas politik, kekhawatiran utama kami adalah ukuran kamp-kamp tahanan terus bertambah besar," kata Direktur Asia Pasifik Amnesti Internasional Sam Zarifi.

Amnesti memberi contoh di kamp Kwanliso 15 di Yodok, ribuan orang ditahan karena dianggap "memiliki hubungan" dengan para tahanan politik. Sebagian besar dari mereka tidak mengetahui kejahatan yang dituduhkan kepada mereka.

Bekas tahanan di Yodok tahun 2000-2003 Jeong Kyoungil, dalam kesaksiannya mengatakan mereka mulai bekerja pukul 4.00 hingga pukul 20.00. Di antara masa kerja yang panjang itu diselingi dua jam pelajaran ideologi.

"Jika kami tidak hafal 10 kode etik, maka kami dilarang tidur," kata Jeong mengenang.

Hanya para tahanan yang bisa menyelesaikan tugas yang boleh menerima ransum berupa tujuh ons bubur jagung. Dan kematian tahanan menjadi pemandangan biasa setiap hari.

Beberapa tahanan memakan tikus atau mengorek biji jagung dari kotoran hewan untuk bertahan hidup, tambah laporan Amnesti. Pada tahun 1999-2001 sekitar 40% tahanan meninggal akibat kekurangan gizi.

Berapa sebenarnya jumlah tahanan politik di Korea Utara? Kementerian Luar Negeri AS dalam laporan hak asasi manusia yang dirilis tahun 2010 memperkirakan antara 150.000 hingga 200.000 orang hidup sebagai tahanan di Korea Utara.

Link terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.