Thailand-Kamboja terganjal, Burma berpeluang

SBY-Abbhisit Hak atas foto none
Image caption PresidenYudhoyono menilai ada sejumlah ganjalan dalam penyelesaian konflik Thailand-Kamboja.

Persoalan Kamboja dan Thailand menjadi salah satu yang menjadi perhatian utama dalam Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang juga menjadi Ketua ASEAN menyebutkan persoalan ini berada di deretan tiga teratas dari sepuluh persoalan utama yang menjadi perhatian pemimpin ASEAN.

Dalam pernyataannya kepada media seusai menutup KTT ASEAN hari ini (8/5), Yudhoyono mengatakan persoalan ini menjadi bagian dari isu manajemen dan penyelesaian konflik kawasan ASEAN.

Dia mengatakan negara-negara ASEAN tetap mengedepankan penyelesaian damai dalam konflik perbatasan kedua negara itu.

"Pemimpin ASEAN memiliki sikap yang sama dan mendorong baik Thailand maupun Kamboja untuk memilih peaceful solution, mencegah eskalasi konflik dan konflik bersenjata," kata Yudhoyono.

Indonesia sebagai Ketua ASEAN telah melakukan upaya untuk menyelesaikan persoalan ini kata Yudhoyono.

Salah satunya adalah mengajak kedua pemimpin negara tersebut bertemu di hari terakhir penyelenggaraan KTT dan kemudian berujung pada pertemuan lanjutan menteri luar negeri dari kedua negara yang akan berlangsung besok (9/5).

Soal mendasar

Yudhoyono mengatakan memang masih ada sejumlah persoalan mendasar yang belum bisa disepakati diantara kedua negara yang mempersoalkan batas kedua negara.

"Ada perbedaan perspektif yang sesungguhnya juga fundamental, Kamboja menginginkan kehadiran observer telebih dahulu sementara Thailand menginginkan adanya pembicaraan bilateral terlebih dahulu sebelum dikirimnya tim peninjau," kata Yudhoyono.

Meski dalam KTT kali ini pemimpin Thailand dan Kamboja tidak mencapai kesepakatan apapun, Indonesia menilai masih ada harapan dalam pembicaraan lanjutan dan menolak jika sebagai pemimpin ASEAN dikatakan gagal dalam menyelesaikan soal ini.

"Summit ini kan berhasil karena sebelum KTT ini kan ada ancaman proses perundingan Kamboja dan Thailand mencapai jalan buntu tapi justru kami kira melalui KTT ini semakin dipertegas bahwa proses diplomasi masih ada peluang dan terbuka," kata Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa.

Peluang Burma

Persoalan lain yang juga menjadi topik utama dalam KTT kali ini adalah keinginan Burma untuk menjadi Ketua ASEAN pada tahun 2014 mendatang.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan para pemimpin ASEAN pada prinsipnya tidak keberatan dengan permintaan Burma itu.

Namun dia menekankan Burma harus terus mengembangkan proses demokratisasi di negara tersebut.

Hak atas foto BBC World Service
Image caption Presiden Burma, Thein Sein (kiri) diminta untuk terus mengembangkan kehidupan berdemokrasi.

"Yang jelas Myanmar yang juga menjadi perhatian dunia diharapkan terus menjalankan proses demokratisasi dan rekonsiliasi sehingga tidak menimbulkan pengelihatan yang negatif terhadap Myanmar," kata Yudhoyono.

Sejumlah negara anggota ASEAN dilaporkan mendukung permintaan Burma menjadi Ketua ASEAN namun Indonesia merupakan negara yang menilai perlunya sejumlah proses penilaian yang harus dilalui negara itu.

"Negara seperti Indonesia melihat perlunya ada proses yang harus dilalui Burma dan Indonesia sebagai Ketua ASEAN akan mengadakan kunjungan ke Myanmar untuk membuat analisa mengenai perkembangan Myanmar," kata Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa.

Sebelumnya Burma dan Laos berkeinginan untuk bertukar waktu memimpin ASEAN, Laos yang seharusnya menjadi Ketua ASEAN pada tahun 2014 meminta giliran kepemimpinannya diserahkan kepada Burma yang seharusnya mendapat kesempatan memimpin pada 2016.

Burma sebelumnya pernah mengajukan diri menjadi Ketua ASEAN pada tahun 2005, namun mereka gagal mendapatkan dukungan setelah Amerika Serikat dan Uni Eropa mengancam akan memboikot pertemuan ASEAN.

Keberatan serupa tampaknya masih akan datang jika negara itu kembali mengajukan diri sebagai Ketua ASEAN dua tahun mendatang.

Selain membahas dua persoalan utama tersebut KTT ASEAN kali ini juga membahas sejumlah persoalan seperti ketahananan pangan, energi dan penanggulangan bencana.

Berita terkait