Pejabat senior Libia dukung pemberontak

Delapan pejabat Libia Hak atas foto AP
Image caption Delapan pejabat Libia menggelar konferensi pers di Roma, Italia.

Delapan pejabat senior Libia yang membelot dari pemerintahan Kolonel Muammar Gaddafi menyatakan bergabung dan mendukung kemlompok pemberontak.

Salah satu dari pejabat itu menuduh pasukan pro Gaddafi melakukan pembunuhan massal dalam konferensi pers di Roma, Italia.

Salah satu dari jenderal yang memberikan keterangan kepada wartawan di Roma, bernama Oun Ali Oun, memutuskan untuk mengalihkan dukungan dari pemerintahan Libia, "atas nama para martir yang tewas dalam mempertahankan kemerdekaan".

Dia juga mengatakan "pembunuhan massal" dan "kekerasan terhadap perempuan terjadi di sejumlah kota di Libia".

Jenderal yang lain, Melud Massoud Halasa, mengatakan kepada wartawan bahwa pasukan Kolonel Gaddafi hanya memiliki tak lebih dari 10 jenderal yang loyal terhadap pemerintahannya.

Mantan Menteri Luar Negeri Libia Abdel Rahman Shalgam, yang mendukung pemberontak dan mengikuti konferensi pers, mengatakan sekitar 120 orang tentara telah membelot dalam beberapa hari terakhir.

Sejak kerusuhan yang terjadi pada Februari lalu, puluhan pejabat militer, menteri kabinet dan diplomat mundur dari pemerintahan Kolonel Gaddafi.

Sementara itu, di Libia Kolonel Gaddafi bertemu dengan Presiden Afrika Selatan Jacob Zumadi Tripoli untuk mencari solusi diplomatik dalam menghadapi konflik di negara kaya minyak itu.

Kolonel Gaddafi yang terakhir muncul dalam siaran televisi milik pemerintah pada 11 Mei lalu, tidak ikut dalam rombongan yang menyabut Zuma di Bandara Tripoli.

Dalam pembicaraan dengan Presiden Afrika Selatan itu, disebutkan mengenai genjatan senjata, distribusi bantuan kemanusiaan dan pelaksanaan reformasi yang dibutuhkan untuk mengakhiri krisis.

Setelah bertemu dengan Kolonel Gaddafi, Zuma mengatakan pemimpin Libia itu siap untuk menyepakati usulan Uni Afrika untuk melakukan gencatan senjata.

Selain itu, dia juga membantah laporan yang menyebutkan pembicaraan itu akan membahas tentang pelarian Kolonel Gaddafi.

Bagaimanapun, peta jalan damai yang diusulkan oleh Uni Afrika pada Februari lalu, telah ditolak oleh Badan Transisi Nasional Pemberontak TNC dan Nato karena tidak meminta Kolonel Gaddafi untuk turun dari jabatannya.

Nato mendesak larangan terbang di Libia dan mulai menyerang pasukan kolonel Gaddafi pada Maret lalu, sebulan setelah protes anti pemerintah terjadi.

Berita terkait