Kebijakan Australia untuk pengungsi dikritik

Terbaru  3 Juni 2011 - 15:15 WIB
Kapal Pencari Suaka

Setiap tahun ribuan pencari suaka datang ke Australia, sebagian besar dari negara timur tengah.

Rencana Australia untuk mengirimkan pencari suaka anak-anak ke Malaysia untuk mendapatkan klaim status sebagai pengungsi mengundang kritik dari organisasi pembela pengungsi.

Seperti diberitakan AFP, Menteri Imigrasi Australia Chris Bowen mengatakan anak-anak itu termasuk dalam 800 orang manusia perahu akan dikirim ke Malaysia untuk diproses status pengungsinya.

Mereka ditukar dengan 4.000 orang pengungsi yang sudah terdaftar di sejumlah negara Asia Tenggara.

"Saya tidak ingin ada anak yang belum dewasa yang tidak didampingi, saya tidak ingin anak-anak naik perahu untuk datang ke Australia berpikir dan mengetahui kelompok yang mendapatkan pengecualian," kata Bowen kepada ABC TV.

Kritikan itu muncul antara lain karena Malaysia bukan merupakan negara penandatangan Konvensi Pengungsi PBB dan sejumlah laporan menyebutkan para pencari suaka yang akan dikirim ke Malaysia akan dipukul dengan rotan.

Pembela pengungsi menggambarkan keputusan itu - termasuk terhadap anak-anak - mengecewakan dan memiliki potensi pelanggaran terhadap HAM.

"Menteri melupakan bahwa dia memiliki kewenangan untuk menjadi wali bagi anak-anak yang tidak memiliki pendamping," kara Senator Greens Sarah Hanson-Young.

"Menteri mempersiapkan untuk melepas hak dan kewajiban yang seharusnya diberikan kepada anak-anak yang rentan ini."

Kapal kayu

Ian Rintoul, dari Koalisi Aksi untuk Pengungsi mengatakan, masalah utama adalah mengirimkan manusia perahu untuk diproses.

"Saya pikir ini menunjukan tragedi HAM dengan memperdagangkan hak satu kelompok dengan kelompok lain," kata dia kepada AFP.

"Pandangan kami, kami tidak tidak berpikir seseorang untuk kembali dikirimkan ke Malaysia dan faktanya pemerintah ingin mengirimkan anak-anak kembali ke Malaysia, ini menunjukan pemerintah ingin melepaskan mereka."

Bowen mengatakan dia tidak pernah ingin Australia kembali harus menguburkan anak-anak yang tewas dalam kecelakaan kapal, seperti yang terjadi pada Desember lalu, ketika kapal kayu yang membawa sekitar 90 orang pencari suaka tenggelam di Pulau Christmas.

Kapal itu menabrak karang di laut, dan menyebabkan seluruh penumpang jatuh ke laut, termasuk anak-anak dan bayi.

Ribuan pencari suaka menggunakan kapal menuju Australia setiap tahunnya, sebagian besar berasal dari Iran, Irak, Afghanistan dan Sri Lanka.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.