Bolivia terbitkan undang-undang pangan

Terbaru  27 Juni 2011 - 15:32 WIB

Presiden Evo Morales berkeinginan agar Bolivia mencapai swasembada pangan.

Presiden Bolivia Evo Morales menandatangani undang-undang baru yang bertujuan memastikan ketahanan pangan di negeri Amerika Selatan itu.

Di bawah undang-undang itu, maka perusahaan milik negara akan memproduksi benih dan pupuk untuk keperluan pertanian.

"Saudara-saudaraku, saat kita menjadi pemain dalam rantai produksi maka kita akan tingkatkan produksi pangan," kata Presiden Morales di hadapan pendukungnya.

Dengan undang-undang ini, pemerintah Bolivia juga bertujuan menyelamatkan keanekaragaman hayati dan mengakhiri ketergantungan pangan negeri itu pada luar negeri.

Pemerintah Bolivia selama 10 tahun terakhir menginvestasikan anggaran sebesar US$500 juta atau lebih dari Rp4,3 triliun untuk memberikan kredit ringan bagi petani.

Pemerintahan Evo Morales berkeinginan untuk meningkatkan kualitas tumbuhan melalui seleksi alam bukan rekayasa genetika.

Pemerintah Bolivia khawatir benih-benih rekayasa genetik itu akan mengkontaminasi tumbuhan asli Bolivia.

Selain itu, benih-benih hasil rekayasa genetika itu terbukti terlalu mahal bagi para petani kecil Bolivia.

Kedaulatan pangan

Sementara itu, perwakilan Bolivia untuk Badan Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) Lisa Panades mengatakan undang-undang itu merupakan langkah awal menuju arah yang benar.

"Undang-undang itu bertujuan menciptakan kondisi untuk meningkatkan produksi pangan, terutama di antara para petani kecil," kata Lisa.

Namun dia mengakui undang-undang ini tentu tidak cukup namun dengan dukungan pemerintah dan jika diterapkan dengan baik maka kedaulatan pangan Bolivia bisa terjamin.

Bolivia terbukti sangat terpengaruh dengan fluktuasi harga pangan dunia. Sebagai contoh, harga gula naik dua kali lipat awal tahun ini.

Di sejumlah kawasan dataran tinggi, warga mulai mengkonsumsi pasta dan nasi ketimbang melahap penganan tradisional karena meningkatnya harga.

Bolivia terbukti sangat terpengaruh kondisi harga pangan global. Sebagai contoh, harga gula sudah naik hingga dua kali lipat awal tahun ini.

Pada Februari lalu, Presiden Morales batal tampil di depan warga kota tambang Oruro, karena terjadi unjuk rasa besar terkait minimnya persediaan dan kenaikan harga pangan.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.