AS-Filipina gelar latihan militer

Amerika Serikat mengerahkan kapal canggih dalam latihan militer di Laut Cina Selatan Hak atas foto AFP
Image caption Amerika Serikat mengerahkan kapal canggih dalam latihan militer di Laut Cina Selatan

Filipina dan Amerika Serikat memulai latihan angkatan laut bersama di tengah ketegangan dengan Cina mengenai sengketa wilayah di Laut Cina Selatan.

Beberapa kapal perusak bersenjata rudal milik Amerika dikerahkan dalam latihan selama 11 hari di perairan barat daya Filipina.

AL Filipina mengerahkan kapal-kapal perang yang sudah tua dalam tersebut.

Dalam wawancara dengan BBC, Presiden Benigno Aquino mengatakan dia mengkhawatirkan penyerobotan perairan Filipina oleh Cina.

Beberapa negara Asia menyatakan mereka pemilik perairan yang memiliki arti strategis penting dan juga mungkin menyimpan minyak dan gas.

Latihan AL menjadi peristiwa tahunan penting dan sekaligus kesempatan berharga bagi AL Filipina untuk bisa menguasai teknik-teknik baru.

Latihan militer kali ini berlangsung pada masa yang sangat penting dari sudut pandang strategis dan berlangsung tidak jauh dari kawasan sengketa di Laut Cina Selatan.

Filipina menuding Cina telah melakukan beberapa kali penerobosan wilayah akhir-akhir ini.

Hari Senin, Senat Amerika Serikat secara aklamasi menyetujui mosi yang menyesalkan ''penggunaan kekuatan oleh kapal angkatan laut dan pasukan keamanan maritim dari Cina di Laut Cina Selatan''.

Senator Jim Webb dari Partai Demokrat mengatakan negara-negara Asia Tenggara merisaukan ''pola intimidasi'' oleh Cina.

Pakta pertahanan

Sebagai bekas wilayah jajahan AS, Filipina masih memiliki hubungan erat dengan Amerika.

Amerika sudah menyatakan niat untuk memenuhi perjanjian pertahanan yang sudah lama berlaku dengan Filipina jika memang diperlukan.

Latihan militer ini jelas mendatangkan jaminan tambahan bagi Filipina mengenai dukungan yang akan diberikan AS jika Cina tetap menekankan klaim kepemilikannya atas wilayah yang dipersengketakan.

Manila mengatakan telah Cina telah sembilan kali menerobos ke dalam perairan wilayahnya sejak akhir Februari, dan Presiden Aquino mengatakan dia sangat mengkhawatirkan situasi.

Presiden Aquino mengatakan kepada BBC bahwa jika Cina memaksakan klaimnya, akan ''sulit untuk memahami bagaimana itu bisa mengikuti hukum internasional''.

''Dan jika masyarakat internasional setuju dengan langkah semacam itu, apa jadinya dengan supremasi hukum?''

Cina sendiri telah menyatakan tidak akan memilih penggunaan kekuatan untuk menyelesaikan sengketa perbatasan di Laut Cina Selatan.