Hujan lebat gusur pengungsi di Mogadishu

Hak atas foto Reuters
Image caption Para pengungsi kekeringan panjang di Mogadishu sekarang terguyur hujan lebat berhari-hari

Warga yang mengungsi akibat kekeringan panjang di kamp-kamp di dekat ibukota, Mogadishu, sekarang terguyur hujan lebat berhari-hari.

Para pekerja sosial mengatakan lima orang, termasuk tiga anak tewas. Seorang dokter mengatakan kepada BBC bahwa orang-orang tidak bisa mendapatkan tempat berlindung.

Mereka adalah korban kekeringan panjang yang melanda banyak wilayah di Tanduk Afrika.

Sekitar 10 juta orang dilaporkan terkena di kawasan itu.

Osman Duflay, seorang dokter Mogadishu, mengatakan kepada BBC bahwa para pengungsi di kamp-kamp menghadapi "bencana".

"Khususnya balita dan wanita hamil. Mereka menderita kekurangan gizi dan penyakit-penyakit menular seperti campak, diare dan penyakit pernafasan," katanya.

Terburuk dalam 60 tahun

Minggu ini Mark Bowden, koordinator masalah-masalah kemanusiaan PBB, mengatakan kepada BBC bahwa di negara hampir terkena "paceklik".

Minggu lalu milisi Islamis al-Shabab yang berperang melawan pemerintah di Mogadishu mengatakan mencabut larangan terhadap bantuan dari lembaga-lembaga asing asalnya mereka tidak menunjukkan "agenda tersembunyi".

Kekeringan panjang ini dilaporkan sebagai yang terburuk dalam 60 tahun di Tanduk Afrika.

Komite Palang Merah melaporkan kenaikan dramatis tingkat kekurangan gizi bahkan di daerah-daerah Somalia yang biasanya dianggap sebagai sumber penghidupan.

Somalia, yang sudah porak-poranda akibat konflik selama 20 tahun, merasakan dampak paling parah yang ditimbulkan kekeringan panjang di kawasan Tanduk Afrika ini.

Berita terkait