Cina bantah lakukan peretasan dunia maya

Peretas anonim Hak atas foto SPL
Image caption Peretasan kali ini menurut McAfee dilakukan secara luas dan besar-besaran

Media resmi Cina membantah tuduhan bahwa negaranya berada dibelakang kampanye serangan di dunia maya.

Awal pekan ini, perusahaan keamanan komputer McAfee mengatakan lebih dari 70 organisasi termasuk enam pemerintahan, PBB dan perusahaan senjata berulang kali diserang peretas selama lima tahun ini.

Laporan dari surat kabar Harian Rakyat yang dianggap corong Partai Komunis Cina mengatakan bahwa mengkaitkan Cina dengan peretasan internet merupakan tindakan tak bertanggung jawab.

Di dalam laporan itu tidak ada pejabat Cina yang dikutip namun artikel koran itu menyebutkan tuduhan McAfee tidak layak diperhatikan.

Dalam laporannya hari Kamis, MacAfee tidak menghubungkan langsung serangan di dunia maya itu dengan Cina.

Namun sejumlah pakar yang dikutip harian Washington Post mengatakan kemungkinan pelakunya Cina.

McAfee menyatakan selain pemerintah mereka yang diserang peretas adalah Komite Olimpade Internasional dan sejumlah gedung di kantor berita Associated Press.

Masih berlangsung

Kepala bidang teknologi MacAfee di Eropa, Raj Samani mengatakan kepada BBC serangan itu masih berlangsung sampai sekarang.

"Tingkat serangan ini berbeda dengan yang dilakukan Naga Malam yang muncul awal tahun ini. Mereka menyerang sektor-sektor tertentu. Serangan kali ini sangat luas," kata Raj Samani.

Operasi Shady RAT ini dilakukan pakar komputer selama selama lima tahun untuk menyelidiki sejumlah organisasi yang diyakini telah diserang.

Kata RAT berasal dari kata kata "remote access tool" yang digunakan pakar keamanan internet dan peretas untuk mengakses jaringan komputer dari jauh.

"Dari aksesnya kami mampu melacak darimana lalu lintas itu datang," ujar Samani.

McAfee tidak tahu apakah serangan itu untuk mencuri data namun bisa juga digunakan untuk memperbaiki produk yang ada atau membantu mengalahkan pesaing. NamunMcAfee tidak menyebutkan satu negara pun sebagai pelaku serangan besar-besaran itu.

Sementara itu Jim Lewis, pakar internet dari Centre for Strategic and International Studies dikutip kantor berita Reuters bahwa "sangat mungkin Cina berada dibelakang kampanye ini karena beberapa sasaran memiliki sesuatu yang penting bagi Beijing."

"Segala sesuatu mengarah ke Cina. Mungkin saja Rusia namun lebih banyak menunjuk ke Cina daripada Rusia," tegasnya.

Berita terkait