Kelompok pemberontak Libia minta dukungan NATO diteruskan

Kelompok pemberontak Libia Hak atas foto AFP
Image caption Mandat NATO di Libia akan habis pada tanggal 27 September 2011.

Dewan Transisi Nasiona Libial, NTC, meminta agar NATO meneruskan dukungan militer karena Kolonel Muammar Gaddafi tetap merupakan ancaman di dalam maupun di luar Libia.

"Perlawanan Gaddafi atas pasukan koalisi masih merupakan bahaya, tidak hanya untuk Libia tapi juga untuk dunia. Itulah sebabnya kami meminta agar koalisi meneruskan dukungannya," tutur Ketua NTC, Mustafa Abdel Jalil.

Hal itu diungkapkan Mustafa Abdel Jalil dalam pertemuan para menteri pertahanan negara-negara yang terlibat di Libia yang digelar di Doha, Qatar. Sebanyak 15 negara -termasuk Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan Italia- ikut serta dalam pertemuan tersebut.

Abdel Jalil juga memuji peran yang dimainkan NATO dalam membantu kelompok pemberontak.

"Tanpa dukungan NATO, pemberontak tidak akan berada di mana saat ini mereka berada," tambahnya.

Hingga saat ini keberadaan Gaddafi masih belum diketahui dan kelompok pemberontak menyatakan bahwa kemenangan baru tercapai jika dia ditemukan, hidup atau mati.

Mandat sampai September

Sementara itu Komandan Operasi Bersama NATO, Laksamana Samuel Locklear dari Amerika Serikat, berjanji akan meneruskan mandat hingga tanggal 27 September.

"Kami yakin rezim Gaddafi sudah hampir ambruk dan kami berkomitmen untuk melihat operasi ini berlangsung sampai akhir," tuturnya seperti dikutip kantor berita Reuters.

Namun dia menambahkan bahwa masa depan di NATO di Libia masih belum pasti.

"Mandat PBB adalah sampai tanggal 27 September dan peran NATO baru akan jelas ketika waktunya mendekat," tambahnya.

Hingga saat ini serangan udara NATO sudah menghancurkan sekitar 5.000 sasaran militer di Libia.

Hari Minggu (28/08) jurubicara NATO di Brussel mengatakan pesawat tempur NATO melancarkan serangan di Sirte, kota kelahiran Muammad Gaddafi.

Koalisi internasional untuk Operasi Perlindungan Bersatu di Libia didasarkan pada mandat PBB yang membolehkan serangan udara untuk melindungi warga sipil, yang memulai perlawanan atas Gaddafi sejak Februari tahun ini.

Pembebasan tawanan

Sementara itu kapal yang membawa ratusan tawanan -yang dibebaskan dari penjara-penjara di Libia- sudah tiba dari di Benghazi -yang sepenuhnya dikuasai kelompok pemberontak- dari Tripoli.

Wartawan BBC Jon Leyne yang meliput kedatangan kapal itu melaporkan para tawanan disambut gembira oleh keluarga maupun teman mereka.

Sejumlah tawanan adalah yang ditangkap pasukan pendukung Kolonel Gaddafi dalam waktu enam bulan terakhir namun tak sedikit pula yang sudah ditahan selama beberapa tahun.

Para tawanan mengatakan mereka ditahan di sel kecil yang penuh sesak, dipukuli maupun disiksa, dan kelaparan karena makanan dijatah.

Juru bicara NTC di Benghazi, Shansiddin Ben Ali, mengatakan ditemukan pula sejumlah penjara di bawah tanah di antara pingiran Tripoli hingga ke bandara.

"Ada banyak tanah pertanian di sana dan mereka mencari di semua tempat karena ternyata terdapat sejumlah tempat persembunyian yang ditutup sehigga kelihatan hanya seperti rumput," tuturnya.

Dan masih ada kekhawatiran atas ribuan tahanan yang ditangkap pada masa-masa konflik karena hingga saat ini masih tidak diketahui keberadaannya.

Kelompok pemberontak juga mengatakan menemukan beberapa jenazah di kuburan massal.

Berita terkait