Pertukaran pengungsi Australia-Malaysia dinilai tidak sah

Terbaru  31 Agustus 2011 - 16:06 WIB
Pusat penahanan pencari suaka di Malaysia

Pusat penahanan di Malaysia yang rencananya akan menampung pencari suara dari Australia.

Pengadilan Tinggi Australia memutuskan bahwa rencana pemerintah untuk saling tukar pengungsi dengan Malaysia tidak sesuai hukum.

Berdasarkan kesepakatan itu, Australia akan mengirim 800 pencari suaka ke Malaysia untuk diproses dan sebaliknya menerima 4.000 pengungsi dari Malaysia dalam kurun waktu empat tahun.

Namun Pengadilan Tinggi Australia memutuskan Malaysia tidak cukup memberi perlindungan kepada para pengungsi melalui undang-undangnya.

Dengan pemungutan suara 5-2, Pengadilan Tinggi menerima argumentasi yang disampaikan oleh penasehat hukum dua pencari suaka asal Afghanistan, yang berpendapat pertukaran pengungsi melanggar hukum karena Malaysia belum menandatangani Konvensi PBB Tentang Pengungsi sehingga tidak bisa memberi perlindungan yang cukup bagi pengungsi.

Disebutkan pula bahwa dengan kesepakatan itu maka Australia tidak akan bisa memenuhi kewajiban internasionalnya.

Dan Menteri Imigrasi, Chris Bowen, dinilai oleh pengadilan tidak memiliki kekuatan hukum untuk memindahkan para pencari suaka dari Australia yang masih berada dalam proses.

Pukulan besar

Keputusan ini merupakan pukulan besar kepada pemerintah Australia namun disambut baik oleh para pegiat pengungsi, seperti dilaporkan wartawan BBC di Sydney, Nick Bryant.

Protes atas pertukaran pengungsi

Kesepakatan pertukaran pengungsi antara Australia dan Malaysia banyak dikritik.

Kesepakatan pertukaran pengungsi ditujukan guna mencegah pencari suaka dan juga penyeludup manusia dalam menjadikan Australia sebagai tujuan mereka. Dengan kesepakatan ini maka pencari suaka yang tiba di Australia akan dikirimkan ke Malaysia sambil menunggu permohonannya diproses.

Selain itu, kesepakatan juga dilihat oleh banyak pihak sebagai upaya pemerintahan Partai Buruh pimpinan Perdana Menteri Julia Gillard dalam menghadapi tuduhan bahwa mereka bersikap lunak terhadap pencari suaka.

Dalam perkembangan lain, kebakaran terjadi saat kerusuhan di salah satu pusat penahanan imigrasi di Darwin, Australia utara.

Polisi dan pemadam kebakaran dikerahkan ke pusat penahanan yang menampung 466 imigran.

Media-media lokal menyebutkan kerusuhan terjadi setelah imigran asal Indonesia yang ditahan di tempat itu marah karean tidak diizinkan merayakan Idul Fitri.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.