Berencana bom Pentagon, seorang pemuda ditahan FBI

Pesawat remote control Hak atas foto Reuters
Image caption Pesawat model F-86 Sabre yang diduga akan digunakan untuk mengebom Pentagon.

Aparat keamanan Amerika Serikat menahan seorang pemuda berusia 26 tahun karena merencanakan penyerangan Pentagon dan gedung Capitol di Washington DC.

Biro Investigasi Federal (FBI) mengatakan Rezwan Ferdaus merencanakan menerbangkan dua pesawat terbang mini berisi bahan peledak yang dikendalikan remote control.

Pesawat terbang mini berbentuk pesawat tempur F-86 Sabre dan F-4 memuat bahan peledak C-4 dan rencananya akan diterbangkan dan ditabrakkan ke kedua tempat penting.

Sarjana fisika lulusan Universitas Northeastern itu diduga sudah merencanakan serangan 'jihad'-nya sejak awal 2010 lalu.

Selain merencanakan pengeboman dua bangunan penting di ibukota Amerika Serikat itu, Ferdaus juga diduga memasok berbagai keperluan untuk Al-Qaeda.

Operasi penyamaran

Departemen Kehakiman AS, saat mengumumkan penangkapan Ferdaus, mengatakan operasi untuk membekuk sang pemuda membutuhkan waktu beberapa bulan.

Pemerintah AS meyakini Ferdaus merancang dan memasok delapan unit telepon genggam yang digunakan sebagai detonator untuk operasi terselubung Al-Qaeda dengan target tentara AS di Timur Tengah.

Keyakinan ini diperoleh dari percakapan antara Ferdaus dan agen yang menyamar sebagai anggota Al-Qaeda.

Dalam sebuah pertemuan pada Juli 2011, sang agen mengatakan kepada Ferdaus bahwa detonator rancangannya bekerja dengan baik dan menewaskan tiga prajurit AS di Irak.

"Itulah yang saya inginkan," kata Ferdaus kepada agen tersebut.

Tak lama kemudian, Ferdaus menceritakan rencananya menyerang Pentagon dan gedung Capitol tempat kongres bekerja.

Agen yang menyamar itu kemudian memasok bahan peledak, senjata api dan pesawat remote control.

Dan, pada Rabu (27/09), Ferdaus ditangkap saat memasukkan persenjataan dan bahan peledak ke dalam sebuah tempat penyimpanan.

Perencanaan lama

Image caption Pentagon pernah diserang bersamaan dengan serangan ke Gedung WTC New York.

Jaksa Agung Amerika Serikat, Carmen Ortiz mengatakan Ferdaus sudah lama merencanakan aksinya.

Pemerintah AS menduga Ferdaus sudah merencanakan aksinya iejak awal 2010 lalu.

"Apa yang terjadi saat ini menunjukkan Ferdaus sudah lama merencanakan aksi kekerasan terhadap negara, termasuk serangan ke Pentagon dan gedung Capitol," kata Ortiz.

"Namun rencana pengeboman ini tidak membahayakan warga karena dia selalu diawasi agen FBI yang menyamar," tambah Ortiz.

Jika semua tudingan ini terbukti, maka Ferdaus terancam hukuman maksimal 15 tahun penjara karena mendukung organisasi teroris asing.

Selain itu, dia juga terancam hukuman maksimal 20 tahun penjara karena mencoba merusak sistem keamanan dan pertahanan negara.

Berita terkait