Demonstran tetap bertahan di lapangan Tahrir, Kairo

Terbaru  23 November 2011 - 12:10 WIB
Peserta demo di lapangan Tahrir

Bentrokan terus terjadi hingga jauh malam di lapangan Tahrir, sudah 30 orang tewas.

Ribuan warga Mesir tetap bertahan di lapangan Tahrir di jantung ibukota Kairo, meski penguasa tertinggi militer telah menjanjikan percepatan penyerahan kekuasaan dari pihak militer pada pihak sipil.

Setelah empat hari melakukan aksi demonstrasi yang diwarnai bentrokan kekerasan, panglima militer Mohamed Hussein Tantawi mengatakan pemilihan presiden bisa dipercepat pada Juli 2012.

Namun menurut para peserta aksi demo, janji itu tidak cukup dan mereka tetap menuntut agar Tantawi mundur.

Bentrok tak terhindarkan dan terus berlanjut hingga semalam, antara polisi anti huru-hara dan peserta demo.

Gambar-bambar rekaman televisi menunjukkan ambulans keluar-masuk lapangan ini mengangkut orang yang cedera.

Menurut Menteri Kesehatan Mesir, setidaknya 30 orang tewas akibat insiden kali ini sementara ratusan lainnya luka.

Polisi menggunakan gas air mata, peluru karet dan senapan burung untuk mengusir peserta aksi demo yang terus melontarkan batu ke arah aparat.

Sementara menurut para demonstran, polisi juga menembakkan peluru tajam ke arah mereka.

Di luar Kairo, juga dilaporkan terjadi bentrokan di Iskandariyah, Suez, Port Said dan Aswan.

Frustrasi

Aksi turun ke jalan dan demo di lapangan tahrir dipicu oleh ketidakpuasan massa atas langkah-langkah politik penguasa militer.

Sebelum aksi meletus, militer mengatakan pilpres baru bisa digelar akhir 2012 atau malah tahun 2013. Ditambah lagi militer juga membuat usulan RUU yang menyatakan bahwa anggaran militer tidak bisa dikutak-katik warga sipil.

Panglima Hussein tantawi

Tawaran konsesi Tantawi tak dipedulikan peserta aksi demo.

Akibatnya aksi massa pecah kembali Jumat lalu. Aksi berlanjut menjadi bentrok berdarah saat pasukan pengamanan mencoba mengusir para peserta demo dari lapangan Tahrir Sabtu berikutnya.

Diantara para peserta demo adalah kelompok yang merasa frustasi dengan lambatnya arus reformasi sejak Hosni Mubarak berhasil digulingkan dari kursi presiden bulan Februari lalu, juga dengan gelombang aksi demonstrasi.

Sepeninggal Mubarak, Dewan Tertinggi Angkatan Bersenjata (Scaf) mengambil alih pemerintahan dengan janji akan melaksanakan transisi terhadap penguasa sipil.

Sesuai jadwal 28 November depan akan jadi tanggal pelaksanaan pemilu legislatif, meski aksi demo terjadi.

Sementara penyelenggaraan pemilihan presiden baru dirancang dilaksanakan akhir tahun depan atau bahkan tahun berikutnya, 2013.

Itu berarti kekuasaan militer bisa jadi akan berlangsung hingga 2013.

Karena itu massa menghendaki setelah pemilu legislatif, segera digelar pemilu presiden.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.