Cina akan genjot ekspor ke negara berkembang

Pabrik pakaian di Cina Hak atas foto Reuters
Image caption Prospek eskpor Cina tahun depan diperkirakan akan tetap suram.

Pemerintah Cina mengatakan akan berusaha meningkatkan ekspor ke negara-negara berkembang tahun depan karena menghadapi tantangan besar akibat krisis di Eropa dan Amerika Serikat.

Dalam laporannya, Kementerian Perdagangan mengatakan pertumbuhan ekspor Cina menurun dan memperkirakan kondisi tahun depan tidak akan lebih baik.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Wang Shouwen mengatakan orientasi ekspor tahun depan akan dipusatkan pada negara-negara berkembang dan negara-negara dengan pertumbuhan ekonomi pesat.

"Pasar ekspor khususnya pasar Eropa dan Amerika tampaknya belum akan pulih. Jadi hal ini akan menimbulkan kesulitan yang sama bagi produksi dalam negeri kita. Itulah tantangan besar yang kita hadapi dalam perdagangan luar negeri tahun depan," kata Wang Shouwen dalam jumpa pers di Beijing hari Rabu (7/12).

Akibat krisis di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat, lanjutnya, para eksportir Cina kemungkinan akan menghadapi kondisi yang amat sulit.

"Tahun depan tidak akan ada perbaikan fundamental di Eropa atau di Amerika Serikat, dan biaya produksi di dalam negeri akan tetap setinggi tahun ini, jadi situasi perdagangan luar negeri tahun depan akan buruk tahun depan," jelas Wang.

Kenaikan upah

Namun Wang Shouwen menambahkan Cina mungkin masih bisa mengekspor lebih banyak pada 2012 dibanding 2011 "selama krisis keuangan Eropa tidak jatuh di luar kendali".

Ekspor Cina selama ini banyak tergantung pada pasar Amerika Serikat dan Eropa terutama untuk mainan, pakaian, dan barang-barang elektronik.

Sejak Cina membuka ekonominya 30 tahun lalu, ekspor Cina terus meningkat dengan peningkatan rata-rata 16% per tahun, lapor wartawan BBC di Beijing, Damian Grammaticas.

Sekitar 80 juta penduduk Cina diperkirakan bekerja untuk sektor perdagangan luar negeri, namun pertumbungan ekpor sekarang tercatat pada tingkat terendah selama dua tahun terakhir.

Di samping itu, menurut Wang, Cina akan tetap menghadapi tuntutan kenaikan upah buruh, biaya tanah, dan bahan-bahan mentah.

Dalam laporan Kementerian Perdagangan, pemerintah Cina menegaskan lagi bahwa Cina tidak memanipulasi nilai tukar mata uang yuan.

"Pemerintah Cina tidak pernah memanipulasi nilai tukar dan nilai tukar kami adalah mengambang berdasarkan perubahan pasar dan permintaan," kata Wakil Menteri Perdagangan Chong Quan.

Berita terkait