Presiden Suriah bantah keluarkan perintah brutal

Presiden Bashar al-Assad Hak atas foto Reuters
Image caption Presiden Bashar al-Assad menuding kelompok-kelompok bersenjata berada di balik kerusuhan.

Presiden Suriah Bashar al-Assad membantah bahwa dia memerintahkan militer untuk membunuh atau bertindak brutal terhadap pengunjuk rasa antipemerintah.

Dalam wawancara dengan saluran televisi Amerika ABC, Presiden Assad menegaskan tidak ada perintah untuk membunuh atau bertindak brutal. Menurutnya, hanya orang-orang gila yang tega membunuh rakyatnya sendiri.

"Kami tidak membunuh rakyat kami...tak ada satu pemerintah pun di dunia yang membunuh rakyatnya, kecuali dipimpin oleh orang yang gila," katanya dalam siaran ABC hari Rabu (7/12).

Presiden juga mengatakan tindakan yang diambil semata-mata untuk melindungi rakyat Suriah. Assad mengatakan tidak merasa bersalah atas kekerasan yang terjadi meski dia menyatakan menyesal atas kematian warga.

"Saya berusaha melakukan yang terbaik untuk melindungi rakyat saya, jadi saya tidak bisa merasa bersalah," katanya ketika menjawab pertanyaan pembawa acara ABC News, Barbara Walters.

Laporan PBB

Sebaliknya Presiden Bashar al-Assad menuding kelompok-kelompok bersenjata, kaum ekstrim dan teroris yang bersimpati kepada Al-Qaida di balik kekekerasan yang terjadi di dunia. Mereka, kata, Assad, berbaur dengan pengunjuk rasa damai.

Hak atas foto AFP
Image caption Dubes Robert Ford akan kembali ke Damaskus setelah ditarik Oktober lalu.

Menurutnya, sebagian besar korban tewas adalah pendukung pemerintah, di antaranya 1.100 tentara dan polisi tewas. Anggota pasukan keamanan yang telah bertindak melebihi kewenangannya telah dihukum, kata Assad.

Presiden Suriah juga mengejek laporan PBB yang menyebutkan Suriah telah melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan.

"Siapa yang mengatakan bahwa PBB adalah lembaga yang dapat dipercaya," tanya Assad.

Presiden Assad mengaku PBB belum mengirimkan dokumen bukti-bukti dugaan pelanggaran kepadanya. Laporan PBB menyebutkan sedikitnya 4.000 orang tewas sejak permulaan pergolakan di Suriah.

Wawancara Assad dengan televisi Amerika ABC terjadi sehari setelah Amerika mengumumkan bahwa duta besarnya untuk Suriah, Robert Ford, akan kembali bertugas di Damaskus setelah ditarik Oktober lalu. Duta besar Prancis kembali ke Damaskus hari Senin (05/12).

Berita terkait