Karyawan Freeport sepakat akhiri mogok

Karyawan Freeport Hak atas foto AP
Image caption Pemogokan karyawan Freeport menyebabkan berkurangnya produksi sekitar 50%.

Ribuan pekerja perusahaan tambang Amerika Serikat Freeport di Papua sepakat mengakhiri pemogokan selama tiga bulan setelah mencapai kesepakatan dengan pihak perusahaan.

Juru bicara serikat pekerja Freeport Juli Parrorongan mengatakan kesepakatan ini ditantangani di Jakarta dengan pihak manajemen Rabu (14/12).

"Yang pertama kenaikan upah secara flat (rata) selama dua tahun sebanyak 37%... dan yang kedua adalah tidak ada pihak pekerja yang dikenai sanksi atas mogok kerja kali ini," kata Juli kepada BBC Indonesia.

"Yang ketiga adalah perusahaan akan membayar upah pekerja yang mogok, selama tiga bulan upah pokok," tambah Juli.

Sekitar 8.000 dari 23.000 karyawan Freeport mulai melakukan pemogokan sejak 15 September lalu dan insiden ini mengganggu produksi tambang perusahaan emas dan tembaga itu.

Juli mengatakan para karyawan dijadwalkan akan mulai lagi bekerja Sabtu 17 Desember.

Fokus pada operasi

Para karyawan pada mulanya mengajukan tuntutan kenaikan gaji sebesar 20 kali lipat dari gaji minimum sebesar US$1,50 per jam menjadi $30 per jam. Tetapi tuntutan kenaikan itu terus menurun.

PT Freeport Indonesia sendiri menyatakan fokus perusahaan itu saat ini adalah memulai lagi kembali operasi.

"PT FI akan memusatkan pada upaya memulai lagi operasi dalam kondisi aman dan efisien," kata Freeport dalam satu pernyataan hari Rabu.

Freeport menyatakan Oktober lalu pengapalan emas dan tembaga terganggu karena hal yang di luar kendali sehingga perusahaan itu terhindar dari sanksi atas kewajiban terhadap konsumen

Kesepakatan diakhirinya pemogokan karyawan Freeport ini disambut Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral, Thamrin Sihite.

"Kami mendukung perjanjian yang akan menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak karena tentunya semua ini akan berdampak pada karyawan, perusahaan dan perekonomian," kata Thamrin seperti dikutip kantor berita AFP.

Pada September lalu, saat pemogokan baru dimulai, produksi dikurangi menjadi 230.000 ton per hari dengan kerugian US$6,7 juta pendapatan pemerintah, menurut data kementerian energi dan mineral.

Berita terkait