Pertanian opium meningkat pesat di Burma dan Laos

Terbaru  15 Desember 2011 - 20:29 WIB
Polisi Burma menyita opium

Penyebab peningkatan penanaman opium antara lain adalah kemiskinan dan konflik.

Sebuah laporan PBB mengungkapkan pertanian opium di Burma serta Laos meningkat pesat dan naik dua kali lipat di kawasan Asia Tenggara sejak 2006.

Kajian yang dilakukan oleh kantor PBB untuk urusan Narkotika dan Kejahatan, UNODC, tersebut memperlihatkan areal tanah yang digunakan di Burma untuk opium meningkat terus selama lima tahun berturut-turut.

UNODC menggunakan helikopter pemantau serta satelit maupun studi lapangan untuk mendapatkan perkiraan penanaman opium.

Sepanjang tahun 2011, peningkatan di Burma -yang merupakan produsen opium terbesar kedua di dunia setelah Afghanistan- mencapai 14%. Sementara di Laos peningkatan mencapai 37% walau secara meyeluruh lahan yang digunakan untuk opium masih relatif rendah.

PBB menuding kemiskinan, konflik, dan kebutuhan pangan sebagai penyebab dari kenaikan pertanian opium.

"Yang mendorong peningkatan penanaman opium adalah ketidakpastian akan pangan, kemiskinan, dan konflik yang marak di kawasan Burma dan harga tinggi yang ditawarkan kepada orang-orang yang ingin menanamnya," tutur Gary Lewis, perwakilan wilayah UNODC untuk Asia Tenggara.

"Yang mendorong peningkatan penanaman opium adalah ketidakpastian akan pangan, kemiskinan, dan konflik yang marak di kawasan Burma dan harga tinggi yang ditawarkan kepada orang-orang yang ingin menanamnya."

Gary Lewis

Kepada para wartawan di Bangkok, Thailand, Lewis menambahkan tingkat kemiskinan di kawasan Shan amat buruk dan tidak pernah disaksikannya di kawasan pedesaan lain.

Pertanian alternatif

Menurut laporan UNODC, sekitar 256.000 rumah tangga di Myanmar terlibat dalam pertanian opium.

Peningkatan penanaman opium di Burma yang tertinggi sampai 27% terjadi di kawasan negara bagian Shan, yang dekat dengan perbatasan Cina.

PBB mengharapkan reformasi politik di Burma yang ditempuh pemerintah sipil hasil pemilihan umum tahun lalu akan membuat kawasan tersebut menjadi lebih terbuka.

Keterbukaan itu pada gilirannya diharapkan bisa menjadi peluang bagi masyarakat internasional untuk mengembangkan pertanian alternatif yang bukan opium.

Alternatif tanaman pertanian juga dilihat sebagai jalan keluar untuk mengurangi pertanian opium di Laos, yang praktis tidak menghadapi konflik.

"Di Laos penyebab utamanya kemungkinan adalah para petani masih kelaparan, mereka masih miskin dan membutuhkan pangan," kata Leik Boonwat, salah seorang staf UNODC seperti dikutip kantor berita AFP.

UNODC memperkirakan nilai produksi opium di Burma, Laos, dan Thailand -yang menjadi tempat penanaman opium utama di Asia Tenggara- meningkat sampai 48% menjadi US$319 juta.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.