Sidang Hosni Mubarak dilanjutkan

Hosni Mubarak Hak atas foto AFP
Image caption Sidang pertama Hosni Mubarak Agustus lalu menarik banyak perhatian massa.

Pengadilan mantan presiden Mesir Hosni Mubarak dengan dakwaan pembunuhan dilanjutkan setelah terhenti selama tiga bulan.

Mubarak, 83 tahun, menghadapi hukuman mati bila dinyatakan bersalah terlibat dalam terbunuhnya 850 orang selama unjuk rasa untuk menggulingkannya Februari lalu.

Mubarak yang berada dalam tahanan militer di Kairo, juga menghadapi tuduhan korupsi bersama dua putranya Alaa dan Gamal.

Mantan menteri dalam negeri Habib al-Adly dan enam pejabat militer juga diadili tekait peranan mereka dalam menangani unjuk rasa.

Pengadilan ditunda tiga bulan lalu karena kuasa hukum meminta hakim ketua Ahmed Refaat diganti, namun permintaan itu ditolak awal Desember lalu.

Lebih dari 5.000 polisi dikerahkan untuk menjaga persidangan, menurut departemen luar negeri.

Sidang Mubarak yang pertama tanggal 3 Agustus lalu disiarkan secara langsung di televisi namun Refaat kemudian memerintahkan larangan kamera.

Harapan membersihkan nama

Hakim sempat membuat kesal kuasa hukum yang mewakili mereka yang diduga menjadi korban Mubarak setelah ia mengeluarkan perintah larangan media pada saat mantan pejabat tinggi memberikan kesaksian termasuk pemimpin militer Hussein Tantawi.

Dalam pernyataan setelah memberikan kesaksian, Tantawi mengatakan Mubarak tidak pernah memerintahkan penembakan ke arah pengunjuk rasa.

Mubarak adalah pemimpin pertama yang digulingkan dalam unjuk rasa di dunia Arab yang dihadapkan ke pengadilan.

Persidangannya menarik besar perhatian media namun kemudian dibayangi protes terhadap junta militer yang mengambil alih kekuasaan setelah Mubarak mundur.

Perhatian juga beralih ke pemilihan pertama paska revolusi yang dimulai November 28 lalu.

Partai-partai Islamis muncul sebagai peraih suara terbanyak dalam pemilihan parlemen ini.

Pengadilan Mubarak ini diperkirakan berisi prosedur biasa dan mengangkat kembali tuduhan terhadap Mubarak.

Namun kuasa hukum Mubarak berharap mereka dapat membersihkan namanya melalui persidangan ini.

Berita terkait