Tingginya harga makanan ancam kesehatan anak

food price Hak atas foto Reuters
Image caption Tingginya harga makanan dapat meningkatkan angka kematian anak-anak di dunia

Tingginya harga makanan memaksa para orang tua di negara-negara berkembang untuk mengurangi asupan makanan anak mereka, kata lembaga bantuan Save the Children.

Lembaga itu melakukan survey terhadap ribuan keluarga di India, Bangladesh, Peru, Pakistan dan Nigeria.

Satu dari enam orang tua mengatakan anak-anak mereka meninggalkan bangku sekolah karena harus membantu mereka bekerja agar bisa membeli makanan.

Lembaga itu juga mengatakan bahwa kenaikan harga makanan telah memperbesar jumlah anak-anak kurang gizi dan bisa menghambat kemajuan upaya menekan angka kematian anak.

Save the Children memperingatkan bahwa jika dunia tidak melakukan tindakan apa apa, setengah miliar anak akan mengalami kekerdilan fisik dan mental dalam 15 tahun mendatang.

Survey tersebut dilakukan di lima negara dimana, menurut Save the Children, separuh populasi anak kurang gizi di dunia berada, berdasarkan jajak pendapat oleh lembaga Globescan.

KTT Kelaparan

Hasil survey menunjukkan bahwa hampir seperempat miliar orang tua telah mengurangi asupan makanan untuk keluarga sepanjang 2011.

Sepertiga dari total responden mengakui anak-anak mereka mengeluh karena tidak mendapat cukup makanan.

Hasil survey ini dirangkum dalam laporan berjudul Hidup Tanpa Kelaparan: Mengatasi Kurang Gizi pada Anak.

"Dunia telah membuat kemajuan dramatis dalam mengurangi angka kematian anak, yaitu turun dari 12 juta menjadi 7,6 juta, tapi momen ini akan terhenti jika kita gagal mengatasi masalah kekurangan gizi," kata eksekutif Save the Children Justin Forsyth.

Lembaga itu berharap Inggris dapat memimpin upaya pengurangan kelaparan dan melindungi anak-anak dari kenaikan harga makanan, yang dimulai dengan KTT Kelaparan (Hunger Summit) saat para pemimpin dunia berada di London untuk Olimpiade.

Berita terkait