Pemilihan presiden Mesir pasca Mubarak tidak jelas

Demo antimiliter
Image caption Demo antimiliter berlangsung dalam peringatan satu tahun digulingkannya Mubarak 11 Februari.

Para pejabat pemilihan umum Mesir tidak dapat memastikan tanggal pemilihan pertama presiden sejak digulingkannya Hosni Mubarak.

Komisi pemilu Mesir dalam jumpa pers Minggu (19/02) hanya menyatakan harapan proses pemilihan dapat diselesaikan akhir Mei.

Ketua komisi pemilu Faruq Sultan mengatakan kepada saluran televisi Nile News bahwa penundaan itu karena masalah pengaturan pemberian suara warga yang tinggal di luar negeri dan kementrian luar negeri meminta waktu lebih banyak.

Mubarak mundur tanggal 11 Februari tahun lalu setelah protes jalanan selama 18 hari yang menewaskan ratusan orang.

Pihak militer mengambil alih kekuasaan namun masih tetap menghadapi aksi pengunjuk rasa yang menutut pengalihan kekuasaan.

Pemilihan parlemen telah diselenggarakan dan majelis baru yang didominasi oleh partai-partai Islam telah menyelenggarakan sidang pertama bulan ini.

Wartawan BBC di Kairo, John Leyne mengatakan penundaan itu kemungkinan karena terjadi perdebatan tentang tanggal pengalihan kekuasaan kepada pihak sipil.

'Militer ingin tetap berpengaruh'

Berdasarkan ketetapan yang dibuat dalam referendum tahun lalu, presiden akan menjabat selama empat tahun dan bisa memegang jabatan dua kali.

Sebelumnya, anggota komisi pemilu Ahmed Shams el-Din mengatakan kepada media Mesir, "Pemilu akan dimulai pada minggu pertama Juni sampai minggu terakhir Juni bila ada pemilihan ulang."

Dewan Militer yang saat ini memegang kekuasaan -yang dikepalai Marsekal Tantawi- menghadapi tekanan untuk memajukan pemilihan presiden pada bulan Mei.

Namun dewan memperingatkan mereka tidak mau tunduk pada permintaan mempercepat transisi yang dituntut para pegiat demokrasi.

Dewan berjanji untuk menyerahkan kekuasaan setelah pemilihan presiden namun para aktivis khawatir militer akan mencoba mempertahankan pengaruh mereka.

Mubarak saat ini dalam proses pengadilan dengan dakwaan memerintahkan pembunuhan demonstran, namun ia menyanggah tuduhan itu.

Berita terkait