Delapan tewas dalam unjuk rasa menentang pembakaran Quran

Terbaru  24 Februari 2012 - 21:26 WIB
Unjuk rasa menentang pembakaran Quran di Afghanistan.

Kemarahan atas pembakaran Quran oleh tentara AS di Afghanistan masih belum mereda.

Unjuk rasa menentang Amerika Serikat sehubungan dengan pembakaran Quran berlanjut hingga hari keempat, Jumat 24 Februari.

Sedikitnya delapan orang tewas dalam unjuk rasa yang diwarnai kekerasan selepas sembahyang Jumat, tujuh di antaranya di Provinsi Herat, Afghanistan barat.

Para pengunjuk rasa mencoba menyerang kantor Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Herat dan membakar beberapa mobil polisi.

Seorang lagi tewas di Provinsi Baghlan di sebelah timur Afghanistan ketika massa menyerang kantor yang bertanggung jawab untuk rekonstruksi di wilayah itu.

Di ibukota Kabul, aparat keamanan Afghanistan melepas tembakan untuk membubarkan para pengunjuk rasa yang sedang mengarah ke kantor Kedutaan Besar Amerika Serikat dan NATO. Enam orang dilaporkan cedera dalam insiden tersebut.

Unjuk rasa kemarahan massa pada hari keempat ini berlangsung di beberapa kawasan di Afghanistan.

Kemarahan belum reda

"Saya meminta semua orang di negeri ini, anggota ISAF (pasukan internasional) dan warga Afghanistan, agar bersabar dan mengendalikan diri pada saat kita terus mengumpulkan fakta-fakta."

Jenderal John Allen

Sebelumnya, Panglima NATO di Afghanistan, Jenderal John Allen, sudah menyampaikan permohonan agar semua pihak menenangkan diri.

"Saya meminta semua orang di negeri ini, anggota ISAF (pasukan internasional) dan warga Afghanistan, agar bersabar dan mengendalikan diri pada saat kita terus mengumpulkan fakta-fakta," tulis pernyataan Jenderal Allen.

"Bekerja sama dengan para pemimpin Afghanistan merupakan satu-satunya jalan bagi kita untuk memperbaiki kesalahan besar ini dan menjaminnya agar tidak terulang kembali."

Hari Kamis (23/02) Presiden Barack Obama sudah menyampaikan permintaan maaf pembakaran Quran tersebut.

Namun wartawan BBC di Kabul, Orla Guerin, melaporkan tampaknya seruan Jenderal Allen dan permintaan maaf Presiden Obama belum bisa meredakan kemarahan warga Afghanistan.

Sejak warga Afghanistan mengungkapkan kemarahan atas pembakaran Quran oleh pasukan Amerika Serikat di pangkalan udara di Bagram awal pekan ini, korban jiwa sudah melebihi 20 orang, termasuk dua tentara Amerika Serikat.

Taliban sudah menyerukan pembunuhan tentara asing sebagai balas dendam atas yang mereka sebut sebagai pelecehan Quran.

Link terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.