Palang Merah akan masuk kawasan Homs Suriah

FSA Hak atas foto Reuters
Image caption FSA mundur dari Baba Amr, Homs agar ICRC bisa masuk memberikan bantuan.

Palang Merah Internasional, ICRC dijadwalkan masuk ke distrik Baba Amr, Homs, Suriah Jumat (02/03) untuk mengantarkan bantuan makanan dan perlengkapan medis.

Setelah satu bulan kota tersandera kekerasan ICRC akhirnya diijinkan masuk bersama Sabit Merah Suriah sekaligus mengevakuasi korban luka-luka.

Kawasan ini merupakan daerah terparah akibat serangan pasukan pemerintah dalam beberapa pekan terakhir.

Pasukan Pembebasan Suriah, FSA menyatakan akan meninggalkan distrik tersebut dalam sebuah ''taktik penarikan''.

FSA mengatakan 4.000 warga sipil menolak untuk meninggalkan rumah mereka dan penarikan itu sebagai upaya untuk menyelamatkan mereka dari serangan mematikan.

Dari sekitar 100.000 warga yang biasanya tinggal di Baba Amr, hanya beberapa ribu saja yang tersisa.

Sangat mengkhawatirkan

Homs sendiri saat ini tengah diliputi salju yang tebal, sehingga memperlambat serangan pasukan pemerintah yang dimulai sejak Selasa lalu. Salju juga membuat kondisi warga sipil semakin mengkhawatirkan.

Banyak warga yang tetap tinggal di Baba Amr tanpa listrik dan kehabisan bahan makanan.

"Kami mengkhawatirkan ada banyak orang yang terluka parah di Baba Amr,'' kata juru bicara ICRC Carla Haddad kepada BBC.

"Kami menyadari situasi di lapangan sangat mengkhawatirkan,'' tambahnya.

Sementara itu, Prancis menyatakan dua wartawan mereka yang terperangkap di Homs, sekarang sudah berada di luar Suriah dalam kondisi yang aman.

Wartawan Edith Bouvier, 31, dan fotografer William Daniels, 34, sekarang berada di Libanon, demikian pernyataan Presiden Nicolas Sarkozy dalam sebuah keterangan pers.

Laporan lain yang mengemuka adalah penemuan dua jenazah wartawan Barat yang tewas dalam serangan yang sama saat Bouvier terluka.

Meski demikian laporan yang menyebutkan jenazah wartawan Inggris Marie Colvin dan fotografer Prancis Remi Ochlik ditemukan ini belum dapat dikonfirmasi kebenarannya.

PBB memperkirakan lebih dari 7.500 korban tewas dalam 11 bulan aksi kekerasan menentang pemerintahan Bashar al-Assad.

Berita terkait