Presiden Sarkozy mengumumkan langkah hukum baru

Terbaru  22 Maret 2012 - 18:24 WIB

Sarkozy umumkan langkah baru

Presiden Prancis, Nikolas Sarkozy

Nikolas Sarkozy mengumumkan ancaman hukuman atas kegiatan yang berhubungan dengan terorisme.

Presiden Prancis, Nikolas Sarkozy, mengatakan warga Prancis yang mengakses situs internet yang mendukung terorisme diancam hukuman.

"Setiap orang yang pergi ke internet dan mencari pembenaran atas nama terorisme atau menyerukan kebencian dan balas dendam akan ditindak sesuai hukum," tuturnya kepada para wartawan usai pertemuan dengan menteri pertahanan, kehakiman, dan luar negeri di Paris hari Kamis (22/3).

"Setiap orang yang pergi ke luar negeri dan melakukan indoktrinasi ideologis yang mengarah ke kegiatan terorisme akan ditindak sesuai hukum."

Langkah ini ditempuh setelah aparat keamanan mengepung tempat tinggal Mohamed Merah -pelaku pembunuhan atas tujuh warga Prancis- selama 32 jam di Toulouse, Prancis selatan.

Pria berusia 23 tahun itu akhirnya tewas karena melompat dari jendela sambil melepas tembakan ketika polisi mencoba masuk ke tempat dia bersembunyi.

Terorisme bukan Islam

"Setiap orang yang pergi ke internet dan mencari pembenaran atas nama terorisme atau menyerukan kebencian dan balas dendam akan ditindak sesuai hukum."

Nikolas Sarkozy

Pemerintah Prancis sebelumnya mengharapkan bisa menangkap Merah dalam keadaan hidup namun sudah tidak bisa menjalin kontak dengan dia selama 24 jam terakhir.

Sarkozy juga mengatakan penyelidikan masih berlangsung untuk memastikan apakah Merah bertindak sendirian atau bekerja sama dengan orang lain saat melakukan pembunuhan.

Merah dituduh membunuh tiga orang siswa dan seorang guru di sebuah sekolah Yahudi di Toulouse setelah beberapa hari sebelumnya menembak mati tiga tentara Prancis.

Sarkozy meminta agar masyarakat Prancis tidak mencampurkan terorisme dengan Islam dengan mengatakan bahwa umat Islam Prancis tidak ada hubungan dengan 'motif yang gila atau teroris'.

Prancis memiliki sekitar lima juta umat Islam, yang merupakan komunitas Islam terbesar di Eropa barat.

Pengepungan berakhir

Mohamed Merah

Polisi sudah tidak punya kontak lagi dengan Mohamed Merah dalam waktu 24 jam terakhir.

Pengepungan di kota Toulouse, Prancis, atas tempat tinggal pria yang diduga melakukan serangkaian pembunuhan, dilaporkan sudah berakhir.

Mohamed Merah -yang dituduh menembak tiga siswa dan seorang guru di sekolah Yahudi dan tiga tentara- disebut tewas.

Ratusan polisi mengepung tempat tinggal itu dan dalam operasi untuk menangkapnya, sedikitnya tiga polisi terluka.

Sebelumnya Menteri Dalam Negeri Prancis, Claude Gueant, mengatakan Merah mengaku ingin mati dengan senjata di tangannya. Kontak dengan dia sudah terputus dalam waktu 24 tahun terakhir.

Pemerintah Prancis ingin agar dia ditangkap hidup-hidup.

Menurut Menteri Dalam Negeri Claude Gueant, polisi melempar granat dan masuk lewat pintu dan jendela apartemen.

Sekilas Mohamed Merah

  • Usia 23 tahun
  • Warga negara Prancis keturunan Aljazair
  • Tercatat melakukan kriminal untuk kejahatan nonterorisme
  • Menyebut dirinya sebagai anggota al_Qaeda
  • Pernah ke Afghanistan dan Pakistan

Setelah mengamati lokasi dan tidak menemukan tersangka, polisi masuk ke kamar mandi secara pelan-pelan karena khawatir tempat tersebut dipasangi jebakan.

Tersangka keluar dari kamar mandi sambil mengeluarkan tembakan dan kemudian melompat dari jendela.

"Pembunuh keluar dari kamar mandi dengan memuntahkan tembakan," kata Claude Gueant.

Saat melompat dia masih mengeluarkan tembakan. Merah selanjutnya ditemukan dalam keadaan tewas.

Pernah ke Afghanistan

Aparat keamanan mengatakan Mohamed Merah memiliki senapan mesin Kalashnikov, pistol Uzi kaliber 9mm, beberapa senjata genggam lain dan kemungkinan juga granat.

Lampu jalan di sekitar tempat tinggalnya sudah dimatikan sejak Rabu (21/03) dan penduduk di sekitar diungsikan.

Merah juga dilaporkan mengaku sudah mendapat pelatihan di kawasan Waziristan di Pakistan dan pernah ke Afghanistan.

Seorang pengacara yang pernah mendampinginya, Christian Etelin, mengatakan Merah punya kecenderungan untuk berbuat kekerasan.

"Ada keterlibatan agama, sebuah kebencian yang meningkat atas nilai-nilai masyarakat demokratis dan keingingan untuk menerapkan yang dia yakini sebagai kebenaran," tambah Etelin.

Dia juga membantah jika Merah pernah ditahan karena dakwaan memiliki bahan peledak di Afghanistan dan menegaskan bahwa kliennya masuk penjara di Prancis karena perampokan.

Merah mengatakan ingin tewas

Toulouse

Pengepungan di Toulouse sudah dilakukan lebih dari sehari semalam.

Tersangka pembunuhan tujuh orang di selatan Prancis mengatakan kepada polisi yang mengepung apartemennya di Toulouse bahwa dia ingin meninggal dengan "senjata ada ditangan", seperti disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri Claude Gueant.

Gueant mengatakan belum ada kontak sejak semalam dengan Mohammed Merah dan tidak dapat memastikan apakah dia masih hidup.

Polisi memasang peledak sepanjang malam untuk meningkatkan tekanan terhadap pemuda berusia 23 tahun itu.

Dia menjadi tersangka penembakan terhadap tujuh orang dalam tiga serangan terpisah.

"Kami memiliki satu prioritas: untuk membawa dia dalam keadaan hidup jadi dia dapat diadili. Kami berharap dia masih hidup," kata Gueant.

Bagaimanapun, dia mengatakan sangat "aneh bahwa dia tidak beraksi" terhadap ledakan yang dipasang untuk mengintimidasinya.

"Kami mendengar dua tembakan, kami tidak tahu dari mana itu," kata Gueant.

"Meskipun ada upaya sepanjang malam, tidak ada kontak dengan dia."

Ledakan pertama, dilakukan pada Rabu, dan Wakil Walikota Jean-Pierre Havrin mengatakan kepada media bahwa "perundingan telah selesai dan serangan dimulai".

Bagaimanapun, sumber dari kementerian dalam negeri Prancis mengatakan bahwa ini merupakan dimulainya operasi untuk menekan Merah.

"(Ledakan) dilakukan untuk menekan tersangka, yang nampaknya tidak ingin menyerah," kata juru bicara menteri dalam negeri Pierre-Henry Brandet kepada Reuters.

Membawa senjata

"Kami memiliki satu prioritas: untuk membawa dia dalam keadaan hidup jadi dia dapat diadili. Kami berharap dia masih hidup."

Claude Gueant.

Pejabat mengatakan bahwa Merah menggunakan senjata Kalashnikov, pistol mesin mini-Uzi 9mm, sejumlah senjata tangan dan kemungkinan granat.

Lampu jalanan dimatikan disekitar bangunan pada Rabu malam. Kepolisian juga memindahkan penduduk di gedung lain di daerah tersebut.

Polisi mengepung kediaman Merah, setelah dua orang polisi tertembak ketika berupaya mencapai flatnya pada Rabu pagi.

Polisi juga mencoba mencari dan menahan sejumlah anggota keluarga Merah, yang berada di tempat lain di kota tersebut.

Ibunya dibawa ke lokasi pada Rabu (21/3) dan berharap dapat meminta anaknya menyerah, tetapi dia mengatakan kepada polisi bahwa dia tidak dapat mempengaruhi anaknya.

Selain menewaskan empat orang dalam aksi penembakan di sebuah sekolah Yahudi di Toulouse, Merah juga melakukan serangan yang menewaskan tiga tentara asal Prancis di dua tempat berbeda.

Sebelumnya, Merah mengatakan tindakannya adalah untuk membalas kematian anak-anak Palestina dan akan menyerahkan diri ke pihak berwajib.

Dia juga mengklaim pernah menerima pelatihan dari Al-Qaeda di Waziristan, Pakistan dan mengatakan pernah berada di Afghanistan.

Namun sejauh ini belum diperoleh informasi lengkap terkait kegiatan Merah di Afghanistan.

Sumber di pemerintahan Afghanistan kepada BBC mengatakan Merah pernah ditahan di penjara Kandahar karena aksi pengeboman pada 2007.

Tetapi dia berhasil meloloskan diri setelah kabur dari penjara Kandahar pada 2008.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.