Aung San Suu Kyi hentikan kampanye karena sakit

Aung San Suu Kyi Hak atas foto AP
Image caption Aung San Suu Kyi telah tampil di hadapan pendukung dalam serangkaian kampanye di sejumlah tempat.

Pemimpin oposisi Burma Aung San Suu Kyi berhenti berkampanye karena jatuh sakit, satu minggu sebelum dia mengikuti pemilihan sela untuk memperebutkan kursi parlemen.

Kyi Toe, seorang juru bicara dari partai Suu Kyi Liga Nasional untuk Demokrasi, mengatakan pada Minggu (25/3) bahwa dokter pribadi Suu Kyi menyarankan agar pemimpin prodemokrasi Burma itu beristirahat setelah jatuh sakit disertai muntah-muntah ketika berkampanye di Mergui, Burma bagian selatan.

Berdasarkan keterangan dokter pribadi, lanjut Kyi Toe, kondisi kesehatan Aung San Suu Kyi terjadi karena kelelahan dan cuaca panas.

"Menurut saran dokter keluarga Tin Myo Win, dia (Suu Kyi) akan beristirahat di rumah. Dia tidak boleh lagi bepergian jauh," kata Kyi Toe seperti dikutip kantor berita AFP.

Suu Kyi sempat berpidato di hadapan ribuan warga di daerah pedalaman bagian selatan namun sekarang dianjurkan pulang ke Rangoon dan beristirahat.

Kampanye terakhir

Aung San Suu Kyi juga pernah mengalami sakit dalam kampanye sebelumnya di kota Mandalay, Burma bagian utara.

Dengan kondisi terbaru ini maka Aung San Suu Kyi harus membatalkan kampanye terakhir di wilayah tengah, daerah kelahiran mendiang ayahnya, Aung San, yang juga menjadi pahlawan kemerdekaan.

Setelah sebelumnya menjalani hukuman penjara dan tahanan rumah selama bertahun-tahun, Aung San Suu Kyi berkampanye di berbagai daerah yang jauh dari kota tempat tinggalnya, lapor wartawan BBC Charles Scanlon.

Bepergian jauh dengan pesawat, kapal dan mobil guna berkampanye bagi calon-calon dari partainya tentu sangat melelahkan, lanjutnya.

Aung San Suu Kyi sendiri akan memperebutkan suara di satu daerah pemilihan dekat kota Rangoon.

Inilah untuk pertama kalinya dia mengikuti pemilihan sejak Liga Nasional untuk Demokrasi menang besar dalam pemilu pada 1990, tetapi hasil pemilu tersebut diabaikan oleh pemerintah militer pada saat itu.

Berita terkait