Menlu Rusia tegaskan oposisi Suriah tidak bisa mengalahkan pasukan pemerintah

Terbaru  4 April 2012 - 19:26 WIB
Sergei Lavrov

Komentar Lavrov menjadi petunjuk keengganan Rusia dalam transisi kekuasaan di Suriah.

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, mengatakan kelompok oposisi tidak akan bisa mengalahkan angkatan bersenjata Suriah.

"Itu sama terangnya dengan sebuah hari, bahwa kalaupun oposisi Suriah dipersenjatai sampai ke gigi, mereka tidak akan mampu mengalahkan tentara pemerintah," tuturnya kepada kantor berita Interfax saat berkunjung ke Azerbaijan, Rabu 4 April 2012.

Dia juga memperingatkan akan terjadi 'pembantaian selama beberapa tahun jika negara-negara Barat dan Arab campur tangan secara militer dan memasok senjata kepada kelompok pemberontak.

Komentar Lavrov ini muncul tiga hari setelah negara-negara Arab sepakat dalam pertemuan di Istanbul, Turki, untuk memberi gaji kepada para pejuang Tentara Pembebasan Suriah, yang akan disalurkan melalui Dewan Nasional Suriah, SNC.

Menurut Lavrov, pertemuan dari kelompok yang disebut Teman-teman Suriah itu -yang mengakui SNC sebagai perwakilan resmi warga Suriah- melemahkan rencana perdamaian yang sedang diperjuangkan oleh mantan Sekjen PBB, Kofi Annan, yang ditunjuk sebagai utusan khusus PBB dan Liga Arab untuk Suriah.

"Bukannya mendukung rencana Kofi Annan, tapi juga pertemuan Teman-teman Suriah di Istanbul -yang diarahkan untuk memastikan oposisi tidak setuju dengan perundingan- hanya melemahkan upaya dalam menghentikan kekerasan," tambah Lavrov.

Prakarsa Annan

"Itu sama terangnya dengan sebuah hari, bahwa kalaupun oposisi Suriah dipersenjatai sampai ke gigi, mereka tidak akan mampu mengalahkan tentara pemerintah."

Sergei Lavrov

Komentar Lavrov ini tampaknya menjadi isyarat dari keengganan Rusia untuk bergabung dalam upaya merancang transisi kekuasaan yang bisa mengakhiri kekerasan selama setahun belakangan.

Rusia sudah menyatakan dukungan atas rencana perdamaian Annan dan mendesa Presiden Bashar al-Assad untuk mewujudkan komitmen agar menarik pasukan pemerintah dari kawasan-kawasan yang dikuasai kelompok pemberontak dengan batas waktu tanggal 10 April.

Namun mereka juga menegaskan agar pasukan pemberontak meletakkan senjata dalam waktu 48 jam setelah batas waktu tersebut, yang juga termasuk dalam prakarsa Kofi Annan.

Sebelumnya pemerintah Amerika Serikat kembali memperingatkan Damaskus agar tidak meningkatkan serangan terhadap kelompok pemberontak sebelum 10 April.

Duta Besar AS untuk PBB, Susan Rice, mengatakan tindakan pemerintah Suriah sejak tanggal 1 April tidak memperlihatkan harapan bahwa mereka akan mematuhi enam poin dalam rencana damai yang dibawa Kofi Annan.

"Amerika Serikat khawatir dan amat skeptis bahwa pemerintah Suriah akhirnya akan mematuhi komitmennya," kata Susan Rice kepada para wartawan.

"Amerika Serikat khawatir dan amat skeptis bahwa pemerintah Suriah akhirnya akan mematuhi komitmennya."

Susan Rice

Menurutnya PBB sebaiknya mengambil tanggapan yang mendesak dan serius jika hal itu terjadi.

Kekerasan berlanjut

Pemerintah Suriah sudah menegaskan akan mematuhi batas waktu 10 April namun para pegiat kemanusiaan menuduh pemerintah memanfaatkan waktu yang tersisa dengan memberangus kelompok perlawanan sebelum para pemantau PBB tiba.

Sementara itu hingga Selasa (03/04), kekerasan masih terus berlanjut. Laporan-laporan menyebutkan 58 warga sipil tewas akibat sejumlah serangan militer maupun dalam pertarungan antara tentara pemerintah dan pemberontak di Provinsi Idlib.

Suara ledakan dan tembakan juga terdengar pada Rabu 4 April di beberapa tempat, termasuk di Homs di dekat perbatasan Turki.

Adapun tim pendahulu Pasukan Operasi Penjaga Perdamaian PBB akan segera tiba di Suriah untuk membahas pengerahan para pemantau dalam mengawasai pelaksanaan prakarasa Annan.

Di Jenewa, Rabu (04/04), Kofi Annan akan melakukan pertemuan dengan Mayor Jenderal Robert Mood, yang akan memimpin tim pendahulu.

Selain gencatan senjata, rencana damai juga menyarankan ditempuhnya sebuah proses politik untuk menanggapi aspirasi rakyat Suriah, pembebasan para tahanan, penyaluran bantuan, gerakan bebas bagi para wartawan, dan hak untuk melakukan unjuk rasa.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.