Sudan Selatan tuduh Sudan lakukan pengeboman

Militer Sudan Selatan Hak atas foto AFP
Image caption Tentara Sudan Selatan masih bersiaga menyusul ketegangan antara negara itu dengan Sudan.

Pemerintah Sudan Selatan menuduh militer Sudan melakukan pengeboman terhadap salah satu fasilitas pengolahan minyak mereka.

Tuduhan pengeboman itu terjadi di saat Sudan Selatan berupaya melakukan sejumlah langkah untuk mengindari konflik yang akan muncul di antara kedua negara bertetangga tersebut.

Seorang pejabat militer setempat mengatakan telah terdengar sejumlah ledakan di kawasan Sudan Selatan.

Dia memperkirakan ledakan itu berasal dari sebuah bom dan sengaja diarahkan pada ladang minyak Unity yang terletak di Sudan Selatan.

Pemerintah Sudan di Khartoum sejauh ini belum memberikan tanggapan atas tuduhan tersebut.

Sebelumnya ketegangan kedua negara sempat terjadi saat militer Sudan Selatan menduduki ladang minyak Heglig yang terletak dekat perbatasan kedua negara.

Pesan Obama

Namun militer Sudan Selatan segera menarik diri pada hari Jumat lalu setelah muncul kekhawatiran akan adanya perang besar menyusul pendudukan tersebut.

Sudan mengklaim mundurnya tentara Sudan Selatan dari wilayah itu karena tekanan militer yang mereka lakukan.

Sebelumnya ladang minyak Heglig diakui oleh dunia internasional sebagai wilayah Sudan namun belakangan menjadi perdebatan setelah munculnya negara Sudan Selatan karena batas wilayah kedua negara di sekitar ladang minyak itu masih belum terlalu jelas.

Eskalasi ketegangan diantara kedua negara selama satu pekan terakhir telah memicu kekhawatiran akan munculnya perang besar di wilayah tersebut.

Presiden AS, Barack Obama telah meminta kedua pemimpin baik di Khartoum maupun Juba untuk berani kembali duduk di meja perundingan dan memecahkan perbedaan diantara mereka dengan cara damai.

Sudan Selatan merupakan negara yang baru terbentuk pada bulan Juli tahun lalu menyusul kesepakatan damai yang disusum pada tahun 2005 untuk mengakhiri perang saudara selama dua dekade yang mengakibatkan lebih dari 1,5 juta orang tewas.

Berita terkait