Sarkozy minta dukungan sayap kanan

Hak atas foto AFP
Image caption Presiden Prancis Nicolas Sarkozy meminta dukungan pendukung kelompok sayap kanan.

Presiden Prancis Nicolas Sarkozy meminta dukungan pendukung kelompok sayap kanan, setelah pesaing terberatnya kandidat presiden dari kubu sosialis, Francois Hollande menang di putaran pertama pemilu presiden Prancis.

Sarkozy membutuhkan sedikitnya 18% suara dari pendukung setia kandidat presiden dari sayap kanan, Marie Le Pen, untuk memenangkan pemungutan suara pada putaran kedua, bulan depan.

Hasil penghitungan akhir putaran pertama menunjukkan Francois Hollande meraih suara terbanyak yaitu 28, 6%, kemudian disusul Sarkozy yang meraup 27,1%, serta suara terbanyak ketiga diraih secara mengejutkan politisi sayap kanan, Marie Le Pen dengan 18% suara.

Kekalahan Sarkozy di putaran pertama ini merupakan kali pertama dalam sejarah Prancis ketika seorang presiden mencalonkan kembali.

Sarkozy, yang berkuasa sejak 2007, mengatakan dia memahami 'kekecewaan yang dirasakan rakyat Prancis' dalam dunia yang bergerak cepat saat ini.

Kepada pendukung sayap kanan, Sarkozy mengatakan, persoalan imigran merupakan keputusan bersama negara-negara Eropa.

Marie Le Pen ,yang juga Ketua Front Nasional Anti Imigrasi itu, memperoleh suara jauh dari yang diraih ayah sekaligus pendahulunya Jean-Marie Le Pen pada 2002 lalu.

Sebelumnya Le Pen menyerukan agar para pendukungnya memberikan suara untuk Hollande pada putaran kedua.

Jika Sarkozy gagal

Dengan situasi ini, para pengamat memprediksi Hollande akan dengan mudah memenangkan pemungutan suara putaran kedua.

Hak atas foto a
Image caption Marie Le Pen, dari kelompok sayap kanan, membuat kejutan dengan meraup suara 18% di putaran pertama.

Wartawan BBC di Paris Chris Morris mengatakan jika Sarkozy tidak bisa mengubah pendapat sebagian besar rakyat, maka dia akan menjadi presiden incumbent pertama yang kalah saat mencalonkan diri kembali sejak kekalahan Valery Giscard d'Estaing 1981.

Berbagai masalah ekonomi sepert gaji, uang pensiun, pajak dan angka pengangguran menjadi kekecewaan utama rakyat terhadap pemerintah Prancis.

Presiden Sarkozy pernah menjanjikan akan mereduksi defisit anggaran Prancis yang sangat besar dan mengenakan pajak bagi warga Prancis yang tinggal di luar negeri karena enggan membayar pajak dalam negeri.

Sepanjang masa kampanye, Hollande berulang kali mengkritik kebijakan ekonomi yang diambil Sarkozy.

Hollande menjanjikan untuk menaikkan pajak atas perusahaan-perusahaan besar dan warga yang berpenghasilan di atas satu juta euro per tahun.

Dia juga berjanji akan meningkatkan upah minimum, mengangkat 60.000 guru baru dan mengurangi usia pensiun dari 62 ke 60 tahun untuk beberapa sektor.

Jika terpilih maka Hollande akan menjadi presiden sayap kiri pertama sejak Francois Mitterand.

Berita terkait