Cina usir wartawan Al Jazeera

Al Jazeera Hak atas foto Reuters
Image caption Al Jazeera meminta kebebasan peliputan terhadap wartawanya di Cina.

Kantor Berita Al-Jazeera mengatakan mereka terpaksa menutup kantor bironya di Beijing, Cina setelah reporter untuk program berbahasa Inggris mereka diusir dari negara itu.

Pemerintah Cina sebelumnya memutuskan tidak memperbarui ijin bekerja sebagai wartawan dan juga visa dari salah satu wartawan mereka Melissa Chan.

Sejumlah laporan menyebut langkah pengusiran wartawan seperti ini di Cina merupakan yang pertama dalam kurun waktu lima belas tahun terakhir.

Pejabat di Cina sebelumnya juga telah menolak untuk menyetujui adanya pengganti Chan yang telah bekerja sebagai koresponden Al-Jazeera sejak tahun 2007 lalu.

Kantor berita tersebut mengatakan langkah pemerintah Cina yang tidak mengijinkan adanya pengganti Chan membuat mereka tidak punya pilihan lain selain menutup kantor bironya di Beijing.

Tekanan untuk media

Meski Al-Jazeera menutup kantor bironya di Cina, mereka mengatakan akan tetap "menuntut kehadiran mereka di negara itu."

"Kami melakukan pekerjan peliputan di Cina dengan standar tinggi. Dalam peliutan kami terus menyuarakan mereka yang tidak didengar suaranya dan kadang itu membutuhkan peliputan yang berat dibandingkan tempat lain di dunia. Kami harap Cina menghargai integritas peliputan kami dan jurnalisme yang kita kembangkan," kata Direktur Pemberitaan Al-Jazeera, Salah Negm.

"Kami punya komitmen dengan peliputan kami di Cina. Kami berharap wartawan kami bisa mendapatkan kebebasan dalam meliput di Cina sama seperti ditempat lain. Media jaringan Al-Jazeera akan terus melanjutkan kerjasama dengan Pemerintah Cina untuk membuka kembali biro di Beijing."

Wartawan BBC di Beijing, Martin Patience mengatakan langakah Cina terhadap Chan akan dilihat sebagai upaya tekanan pemerintah terhadap media asing yang bertugas di negara tersebut.

Chan selama lima tahun bertugas di Beijing telah menyusun sekitar 400 laporan berbagai bidang mulai ekonomi, politik dalam negeri, politik luar negeri, hak asasi manusia dan lingkungan.

Kasus yang menimpa Chan ini terjadi ditengah rencana Cina yang sedang menyiapkan perubahan kepemimpinan- sebuah periode sensitif dalam politik dalam negeri negara itu.

Berita terkait