PM Jepang: reaktor nuklir harus diaktifkan

PM Noda Hak atas foto AFP
Image caption PM Yoshihiko Noda mengatakan reaktor nuklir perlu dibuka untuk melindungi rakyat.

Jepang harus mengaktifkan kembali dua reaktor nuklir untuk melindungi perekonomian, kata Perdana Menteri Yoshihiko Noda dalam pidato televisi.

Noda mengatakan sejumlah langkah untuk menjamin keamanan reaktor Ohi di barat Jepang telah dilakukan.

Sejak bencana nuklir Fukushima tahun lalu, Jepang menutup 50 reaktor untuk pemeriksaan rutin.

Bencana ini memicu penentangan publik terhadap pembangkit nuklir.

Bulan lalu, pemerintah meminta kalangan bisnis dan rumah tangga di sejumlah tempat di Jepang untuk menghemat penggunaan listrik sebesar 15% untuk mencegah pemadaman.

Reaktor nuklir terakhir yang dimatikan untuk pemeriksaan rutin dilakukan bulan lalu.

Dengan dimatikannya reaktor nuklir ini, Jepang tidak memiliki pasok energi dari nuklir untuk pertama kalinya dalam lebih 40 tahun ini.

Kepercayaan publik atas keamanan nuklir terguncang setelah rusaknya pembangkit Fukushima, menyusul gempa dan tsunami Maret tahun lalu.

Unjuk rasa

"Pasok listrik yang murah dan stabil adalah hal penting. Bila semua reaktor yang sebelumnya memasok 30% listrik Jepang dihentikan atau tetap dimatikan, masyarakat Jepang tidak dapat bertahan," kata Noda.

Ia menambahkan sejumlah perusahaan kemungkinan harus memindahkan produksi ke luar Jepang dan hal itu akan mempengaruhi sektor tenaga kerja.

"Ini adalah keputusan saya bahwa reaktor Ohi nomor 3 dan 4 harus diaktifkan kembali untuk melindungi kehidupan rakyat," kata Noda.

Noda dan para anggota kabinet akan menetapkan keputusan resmi pekan depan bila gubernur kawasan Fukui -tempat reaktor berada- menyepakati langkah ini.

Tetapi keputusan ini sangat kontroversial, kata wartawan BBC Roland Buerk.

Sebelumnya, anggota parlemen dari partai yang memerintah mendesak Noda untuk "sangat berhati-hati" dalam menangani masalah reaktor nuklir ini.

Sejumlah orang melakukan unjuk rasa di Tokyo, menentang pengumuman Noda dengan membawa spanduk bertuliskan, "Kami menentang diaktifkan kembali (reaktor nuklir)."

Bulan April lalu, pemerintah menetapkan panduan keamanan untuk reaktor nuklir dalam upaya agar kepercayaan masyarakat kembali pulih.

Panduan itu termasuk pemasangan saringan khusus untuk mencegah ledakan hidrogen.

Berita terkait