Kondisi gawat darurat di Rakhine Burma.

Terbaru  11 Juni 2012 - 10:40 WIB

Pemerintah mengerahkan militer untuk atasi kerusuhan yang telah menewaskan 17 orang.

Presiden Burma Thein Sein mengumumkan kondisi gawat darurat di negara bagian Rakhine.

Setidaknya 17 orang tewas dan ratusan rumah rusak dalam kekerasan yang melibatkan antara umat Budha dan Muslim di kawasan barat Burma tersebut.

Masalah berkobar di kawasan ini dipicu oleh pembunuhan seorang perempuan Budha bulan lalu, diikuti dengan serangan terhadap sebuah bus yang membawa umat Muslim.

Pemerintah sebelumnya telah memberlakukan jam malam di empat kota di Rakhine, guna menghindari pertikaian lanjutan.

Dengan kondisi gawat darurat maka militer diijinkan untuk mengambil kontrol pemerintahan di kawasan tersebut.

Televisi milik pemerintah memberitakan bahwa perintah gawat darurat merupakan sebuah respon atas peningkatan ''kerusuhan dan serangan teroris'' dan ''ditujukan untuk mengembalikan keamanan dan stabilitas secepatnya''.

Presiden Thein Sein mengatakan kekerasan akan mengancam demokrasi yang tengah berlangsung saat ini.

"Jika kita menempatkan isu rasial dan agama di depan, jika kita menempatkan kebencian yang tiada akhir, keinginan untuk balas dendam dan aksi anarkis di depan, dan jika kita terus membalas dan meneror dan membunuh satu sama lain, ada bahaya bahwa (masalah) dapat berkembang dan bergerak bukan hanya di Rakhine,'' katanya.

"Jika itu terjadi, masyarakat patut waspada bahwa stabilitas negara, proses demokratisasi dan pembangunan, yang dalam tahap transisi saat ini, bisa sangat terpengaruh dan merugikan.''

"Ada bahaya bahwa (masalah) dapat berkembang dan bergerak bukan hanya di Rakhine"

Thein Sein

Pemerintahan sipil di Burma terpilih dalam pemilihan umum 2010 dan April tahun ini, pemimpin oposisi Aung San Suu Kyi masuk parlemen menyusul kemenangan bersejarah dalam pemilu sela.

Bagaimanapun, pemerintahan masih didominasi oleh militer dan kekhawatiran tekanan politik dan pelanggaran hak asasi manusia akan berlanjut.

Salah informasi

Kekerasan di Rakhine dimulai 4 Juni ketika sebuah bus diserang di Taungup, akibat informasi yang salah karena mempercayai sejumlah penumpang bertanggung jawab atas pemerkosaan dan pembunuhan seorang perempuan Budha.

Para pelaku tersangka kemudian ditangkap di kota Ramree di kawasan selatan provinsi dan sekarang dalam persidangan.

Sepuluh Muslim tewas dalam serangan, yang berujung pada kekerasan di kota Maung Daw dan Buthidaung, Jumat (08/06) dan perusakan properti milik umat Budha.

Berdasarkan media milik pemerintah, kerusuhan menewaskan tujuh orang dan 17 lainnya luka-luka.

Negara bagian Rakhine ditempati oleh mayoritas Budha Rakhine tetapi juga menjadi kantong populasi Muslim, termasuk minoritas Rohingya.

Rohingya adalah kelompok etnis Muslim dan tidak memiliki kewarganegaraan, karena Burma menyatakan mereka sebagai imigran ilegal dari Bangladesh.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.