Pilot pesawat Suriah minta suaka di Yordania

Terbaru  21 Juni 2012 - 20:46 WIB
kota Homs

Palang Merah berusaha masuk ke kota Homs dan kota lain yang hancur akibat pertempuran.

Pilot pesawat tempur Suriah yang mendarat di pangkalan militer di Yordania utara meminta suaka, kata para pejabat setempat.

Menteri Penerangan Yordania Samih al-Maaytah mengatakan pilot pesawat tempur MiG-21 saat ini tengah diperiksa.

Televisi Suriah mengatakan pesawat tempur yang diterbangkan oleh kolonel angkatan udara itu, hilang dalam misi latihan.

Insiden itu terjadi di tengah gempuran di kota Homs dan tim Palang Merah ingin menuju sana untuk membantu proses evakuasi warga sipil.

Pesawat buatan Rusia MiG-21 mendarat di pangkalan udara Raja Hussein di Mafrak, dekat dengan perbatasan Suriah, kata para pejabat.

Pembelotan ini diperkirakan adalah yang pertama dan melibatkan pilot Suriah dan pesawat negara itu.

Seorang juru bicara kantor berita pemerintah Suriah, Sana menyebut pilot itu adalah Kolonel Hassan Mirei al-Hamadeh.

Juru bicara Tentara Pembebasan Suriah, Ahmad Kassem, mengatakan kelompok oposisi itu yang mendorong pilot untuk membelot, lapor kantor berita Associated Press.

Pemboman terus berlangsung

"Pagi ini, terjadi pemboman besar. Sekarang ini saya dapat mendengar satu atau dua mortir jatuh setiap setengah jam"

Waleed Faris

Sumber keamanan Yordania mengatakan pilot itu terbang dari bandara militer al-Dumair, di timur laut Damaskus.

Wartawan BBC di Beirut mengatakan Kolonel Hamadeh kemungkinan terbang di atas kawasan Deraa di perbatasan selatan, tempat terjadinya pertempuran sengit.

Para pegiat mengatakan 18 orang meninggal di kota Inkhel setelah serangan bom oleh pasukan pemerintah.

Di kota Homs, pasukan pemerintah dan pemberontak sepakat Rabu (20/06) untuk melakukan gencatan senjata dua jam agar para pekerja bantuan dapat masuk ke kawasan tempur.

Pertempuran di banyak kota Suriah menyebabkan banyak gedung yang hancur.

Palang Merah Internasional, ICRC, bersama dengan bulan sabit merah Suriah memiliki tim yang siap untuk membantu evakuasi warga sipil dan menyalurkan bantuan.

Namun pemboman masih terus berlangsung.

Waleed Faris, seorang penduduk di salah satu kawasan yang akan dibantu ICRC, mengatakan pemboman paling besar terjadi pada Kamis (21/06) pagi dan belum ada tanda-tanda, pertempuran akan mereda.

"Pagi ini, terjadi pemboman besar. Sekarang ini saya dapat mendengar satu atau dua mortir jatuh setiap setengah jam. Hari ini bisa dikatakan tenang dibandingkan beberapa hari sebelumnya," kata Faris kepada kantor berita Reuters.

Kepala unit operasi ICRC, Beatrice Megevand-Roggo, mengatakan pertempuran terjadi lebih dari 10 hari dan ratusan orang terperangkap.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.