Hasil KTT Rio+20 dinilai lemah

Akhir KTT Rio +20 Hak atas foto AP
Image caption Hasil KTT Rio + 20 dinilai masih banyak kelemahan untuk membantu negara miskin.

Pertemuan PBB untuk pembangunan berkelanjutan di Brasil berakhir dengan keputusan para pemimpin dunia mengadopsi sebuah deklarasi politik yang diketok palu pada beberapa hari sebelumnya.

Pengamat Lingkungan dan pembangunan mengatakan kesepakatan Rio+20 sangat kecil untuk mengatasi krisis sosial dan lingkungan.

Gro Harlem Brundtland, penulis laporan pembangunan berkelanjutan PBB 25 tahun lalu, mengatakan kekuasaan perusahaan merupakan salah satu kekurangan dari perkembangan ini.

Negara-negara akan menghabiskan waktu tiga tahun untuk menyusul tujuan pembangunan berkelanjutan.

Mereka juga akan memberi perhatian lebih kepada perlindungan kehidupan laut.

Tetapi langkah untuk membatasi subsidi bahan bakar fosil berakhir dengan kegagalan.

Rencana untuk memberikan hak kepada masyarakat miskin terhadap air bersih, pangan dan energi modern juga melemah dalam pembicaraan pendahuluan yang berlangsung selama enam pekan.

Banyak pemerintah dari berbagai negara yang menanggapi dengan sengit penghilangan teks dalam deklarasi yang memberikan hak reproduksi perempuan, karena ada penolakan dari Vatikan yang didukung oleh Rusia dan negara dari Timur Tengah dan Amerika Latin.

Tidak ada kepemimpinan

PBB telah menetapkan pertemuan ini sebagai "peristiwa sebuah perubahan generasi" untuk mengalihkan ekonomi global ke jalur keberlanjutan.

"Secara penuh tidak melakukan itu," kata Barbara Stocking, Kepala Eksekutif Oxfam GB.

Hak atas foto Reuters
Image caption Pelaksanaan KTT Rio+20 di Brasil diwarnai protes dari sejumlah aktivis lingkungan.

"Kami punya pemimpin dunia di sini, tetapi mereka tidak benar-benar mengambil keputusan yang akan membawa kemajuan," kata dia kepada BBC.

"Aksi yang kurang sangat mengkhawatirkan, karena kami tahu bagaimana situasi yang dihadapi dunia dalam masalah lingkungan dan kemiskinan, dan mereka tidak menunjukan kepemimpinan mereka yang dibutuhkan."

Presiden Haiti Michel Martelly, mengatakan pertemuan seharusnya dapat menghasilkan sesuatu yang lebih.

"Saya merasa seperti negara miskin ini, negara yang selalu terkena bencana - tidak ada yang berubah banyak," kata dia kepada BBC.

"Jadi berkaitan dengan pertemuan ini, saya harus katakan bahwa butuh dukungan yang lebih banyak jadi kita dapat menghasilkan resolusi tepat, yang berdampak kepada kehidupan orang yang terdampak," kata dia.

Pendanaan

Negara berkembang mendesak mereka membutuhkan bantuan finasial untuk beralih ke ekonomi hijau.

Tetapi dengan adanya pemilu AS dan krisis di Uni Eropa, banyak bantuan yang spesifik diblok.

Sebagai konsekuensinya, negara berkembang menolak untuk meloloskan deklarasi yang mendorong ekonomi hijau sebagai terobosan pembangunan berkelanjutan.

Prof Jeffrey Sachs, yang merupakan pakar ekonomi dari Universitas Colombia, dan juga penasihat ahli sekjen PBB, menyatakan dukungan diperlukan.

"Banyak negara miskin yang membutuhkan bantuan semacam itu," kata dia.

Pertemuan ini untuk menentukan arah pembangunan dengan adanya kesepakatan global untuk mengatasi perubahan iklim.

Berita terkait