Polisi Bolivia hentikan mogok kerja

Terbaru  28 Juni 2012 - 08:49 WIB
Polisi Bolivia

Polisi Bolivia melakukan unjuk rasa dan mogok kerja meminta kenaikan upah.

Pasukan kepolisian Bolivia akhirnya menghentikan aksi mogok dan unjuk rasa yang telah berlangsung selama lima hari, Rabu (27/6) waktu setempat.

Keputusan ini diambil setelah para petinggi kepolisian dan pemerintah mencapai kesepakatan soal tuntutan gaji dan aturan kedisiplinan.

Kesepakatan yang diperoleh adalah meningkatkan upah sekitar 32.000 polisi menjadi sekitar US$300 atau sekitar Rp 2,7 juta per bulan.

Hal lain yang disepakati adalah menerapkan aturan disiplin baru hingga skema alternatif yang pembentukannya melibatkan para polisi golongan rendah disepakati.

"Dengan kesepakatan ini, pemberontakan usai. Kesepakatan final ini sudah diteliti semua anggota dan ditandatangani. Pelayanan polisi kembali normal," kata Esther Corzon, salah seorang perwakilan polisi yang menandatangani perjanjian itu.

Akibat unjuk rasa selama lima hari ini setidaknya puluhan polisi terluka dan sejumlah kantor polisi hancur.

Aksi para polisi ini menjadi insiden terbaru dalam pertengahan masa jabatan lima tahun kedua Presiden Evo Morales yang berhaluan kiri.

Protes sosial

"Dengan kesepakatan ini, pemberontakan usai. Kesepakatan final ini sudah diteliti semua anggota dan ditandatangani. Pelayanan polisi kembali normal."

Esther Corzon

Sebelumnya, Evo Morales yang kerap menuding lawan politik sebagai dalang protes sosial, menuduh polisi yang berunjuk rasa tengah berupaya mengacaukan stabilitas Bolivia.

Morales bersumpah tidak akan pernah lagi ada pemogokan polisi seperti terjadi pada 2003 lalu. Saat itu, unjuk rasa polisi dibubarkan militer yang mengakibatkan belasan orang tewas.

Namun ketenangan tak bertahan lama di Bolivia. Sekelompok aktivis warga asli melakukan long march ke ibukota La Paz dalam dua bulan terakhir dan sempat bentrok dengan polisi anti huru-hara.

Mereka memprotes rencana pemerintah membangun jalan raya yang membelah hutan Amazon. Para pengunjuk rasa mengancam tetap akan menduduki kota hingga tuntutan mereka dipenuhi.

Para pendukung Morales kemudian melakukan aksi unjuk rasa tandingan membela sang presiden yang tak ingin menemui para pengunjuk rasa.

Awal bulan ini, bentrokan terjadi antar para penambang di lokasi penambangan besi dan seng yang dimiliki perusahaan internasional Glencore.

Morales merespon dengan mengambil alih kontrol dan operasional tambang. Langkah ini cukup menenangkan petambang namun mengecewakan pihak perusahaan.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.