Warga Jepang kembali memprotes nuklir

Terbaru  30 Juni 2012 - 17:15 WIB
Protes antinuklir

Sebagian pemrotes bermalam di luar kediaman perdana menteri Jepang.

Ribuan warga Jepang kembali mengadakan demonstrasi di berbagai kota guna menentang keputusan pemerintah untuk menghidupkan kembali reaktor nuklir pertama sejak bencana di PLTN Fukushima tahun lalu.

Perusahaan listrik Kansai Electric berencana menghidupkan kembali salah satu reaktornya di kota Ohi pada Minggu besok (01/07).

Perdana Menteri Yoshihiko Noda menyetujui rencana dua pekan lalu dengan mengatakan energi nuklir sangat diperlukan untuk melindungi ekonomi Jepang.

Keputusan perdana menteri disambut baik kalangan industri yang sebelumnya menyampaikan kekhawatiran akan masalah energi untuk memenuhi kebutuhan industri.

Namun para penentang nuklir tetap bersikukuh pada pendirian mereka dan ribuan warga menghabiskan malam di luar kediaman perdana menteri di Tokyo sebagai protes menentang langkah itu.

"Saya tidak pernah bisa menyetujui pengaktifan kembali pembangkit listrik tenaga nuklir di Ohi. Pemerintah harus menutup semua PLTN. Pemerintah harus melihat kondisi yang terjadi di PLTN Fukushima dan menyelesaikan persoalan itu dulu sebelum membuat keputusan baru," kata seorang warga yang mengikuti demonstrasi di Tokyo hari Sabtu, 30 Juni.

Keselamatan masa depan

"Sekarang saya mempunyai anak. Tentu saja saya khawatir dengan situasi saat ini, tetapi saya tidak pernah menginginkan pemerintah melakukan sesuatu yang akan memperparah keadaan di masa depan."

Seorang ibu

Wartawan BBC di Tokyo, Mariko Oi, melaporkan demonstrasi menentang pembangkit listrik tenaga nuklir telah diadakan beberapa kali di Jepang menyusul bencana nuklir PLTN Fukushima akibat gempa dan tsunami Maret 2011.

"Unjuk rasa kali ini tercatat sebagai salah satu protes terbesar sejak kecelakaan PLTN Fukushima Maret tahun lalu," jelas Mariko Oi.

Di kota Ohi sendiri, lapor Mariko Oi, warga berkumpul di kota dan mengusung berbagai spanduk, antara lain bertuliskan "Duduki Ohi".

Di antara peserta unjuk rasa terdapat para ibu beserta anak mereka dan karyawan swasta maupun karyawan pemerintah.

"Sekarang saya mempunyai anak. Tentu saja saya khawatir dengan situasi saat ini, tetapi saya tidak pernah menginginkan pemerintah melakukan sesuatu yang akan memperparah keadaan di masa depan," tutur seorang ibu.

Tenaga nuklir di Jepang sebelumnya menjadi pemasok sekitar 30% dari kebutuhan energi nasional. Namun penduduk Jepang semakin mengkhawatirkan keselamatan atas tenaga nuklir sejak bencana Fukushima.

Beberapa jajak pendapat terbaru menunjukkan sekitar 70% warga Jepang menginginkan penghapusan energi nuklir walaupun tidak harus sekarang juga.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.