Libia bebaskan empat utusan mahkamah internasional

Presiden ICC Hak atas foto Reuters
Image caption Presiden ICC Sang-Hyung Song berjanji untuk menyelidiki tuduhan terhadap utusan ICC.

Libia membebaskan empat utusan Mahkamah Kejahatan Internasional (ICC) yang ditahan setelah mengunjungi Saif al-Islam Gaddafi, putra mantan pemimpin yang digulingkan.

Tim mahkamah kejahatan ini ditahan di kota Zintan setelah dituduh menyelundupkan dokumen dan menyembunyikan alat perekam untuk putra Muammar Gaddafi yang ditangkap.

Keempat utusan itu dibebaskan Senin (02/07) setelah ICC meminta maaf. Libia menuduh empat utusan ICC ini "melanggar keamanan nasional."

Presiden ICC, Sang-Hyung Song, bertolak ke Zintan untuk upaya pembebasan mereka setelah tekanan berminggu-minggu dari mahkamah yang berkantor di Den Haag itu dan juga dari Dewan Keamanan PBB, NATO serta pemerintah Australia.

"Saya meminta maaf atas kesulitan yang timbul akibat masalah ini. Dalam melakukan tugas, (ICC) tidak memiliki maksud untuk merongrong keamanan nasional Libia," kata Song dalam jumpa pers di kota yang terletak di Libia barat itu.

Menghargai kedaulatan Libia

Keempat utusan ICC itu termasuk Melinda Taylor dari Australia yang bertolak ke Zintan untuk mempersiapkan pembelaan Saif al-Islam.

Mereka ditahan pada tanggal 7 Juni setelah mengunjungi Al-Islam.

Hyun Song juga berjanji akan menyelidiki tuduhan bahwa para utusan itu memberikan dokumen yang dapat mengganggu keamanan nasional kepada putra Gaddafi tersebut.

Taylor dituduh membawa kamera berupa pena dan mencoba memberikan surat bersandi untuk Saif al-Islam dari mantan orang kepercayaannya, Mohammed Ismail, yang tengah diburu pemerintah Libia.

Wakil Menteri Luar Negeri Libia, Mohammed Abdelaziz mengatakan pembebasan mereka merupakan hasil kerjasama antara negaranya dan ICC.

Abdelaziz mengatakan "keempat utusan ICC Itu akan meninggalkan Libia Senin".

"Bila ICC ingin mengirim tim lain mereka harus mengirim orang yang menghargai kedaulatan Libia," tambahnya.

Para pakar yudisial mengatakan Saif al-Islam akan sulit mendapatkan pengadilanyang adil di Libia.

Berita terkait