Bangladesh diminta hentikan penyiksaan tentara

Tentara Bangladesh Hak atas foto AFP
Image caption Tentara Bangladesh yang diduga terlibat pemberontakan disidang secara massal.

Organisasi hak asasi manusia, Human Rights Watch meminta Bangladesh untuk menghentikan sidang massal sekitar 6.000 penjaga perbatasan yang ditahan karena upaya pembelotan tahun 2009.

Kelompok itu mengatakan banyak penjaga perbatasan dipukul dan disiksa antara lain dengan alat penyengat listrik.

Banyak di antara mereka yang sakit seperti mengalami gagal ginjal, kata Human Rights Watch.

Organisasi HAM ini meminta Bangladesh untuk membentuk badan penyelidikan independen untuk menangani tuduhan itu dan menjamin para penjaga perbatasan disidang secara adil.

Sekitar 70 orang meninggal tahun 2009 saat ribuan tentara Bangladesh memberontak terhadap petinggi mereka.

Pengadilan khusus dibentuk untuk mengadili para tentara dengan dakwaan pelanggaran disiplin dan terlibat dalam pembelotan dua hari di seluruh negara.

Para tentara pada saat itu melakukan protes terkait dengan sengketa gaji dan keluhan lainnya.

Mereka diadili dan dijatuhi hukuman secara berkelompok.

'Digantung dengan tubuh terbalik'

Direktur HRW Asia Brad Adams menyebut proses pengadilan itu "cacat".

Pengadilan Bangladesh telah memenjara lebih dari 4.000 tentara sejauh ini dan 2.000 lainnya masih menunggu proses pengadilan.

Di antara mereka yang diadili, terdapat 800 tentara yang dikenai dakwaan pembunuhan atau upaya pembunuhan dan mereka menghadapi hukuman mati dengan digantung.

"Mereka yang bertanggung jawab atas kekerasan yang menyebabkan 74 orang meninggal itu harus diadili, namun bukan dengan disiksa dan melalui sidang yang tidak adil," kata Brad Adams.

Bulan lalu, pengadilan menjatuhi hukuman kepada 611 tentara maksimal tujuh tahun penjara.

"Pengadilan massal seperti itu tidak memberikan keadilan bagi korban atau memberi jawaban pasti atas siapa yang bertanggungjawab atas kejahatan selama masa pembelotan," tambah Adams.

Laporan yang diangkat HRW terkait penyiksaan juga menyebutkan "sejumlah korban menceritakan mereka digantung dengan tubuh terbalik."

Jaksa penuntut Mosharraf Hossain mengatakan kepada kantor berita AFP tuduhan itu "100% tidak benar" dan para tersangka disidang secara adil.

Berita terkait