Assad tak ragu gunakan senjata kimia

Terbaru  17 Juli 2012 - 13:02 WIB
Nawaf Fares

Politisi senior Suriah Nawaf Fares membelot ke kelompok oposisi penentang Presiden Assad.

Seorang politisi senior Suriah yang membelot ke kelompok oposisi, Nawaf Fares kepada BBC mengatakan rezim pemerintah Suriah tak akan ragu menggunakan senjata kimia jika terdesak.

Nawaf, mantan dubes untuk Irak, menambahkan sejumlah kabar menyebut pemerintah Suriah kemungkinan sudah menggunakan senjata kimia itu.

"Ada informasi, memang belum dapat dikonfirmasi kebenarannya, bahwa senjata kimia juga digunakan dalam serangan ke kota Homs," kata Nawaf.

Suriah diketahui memiliki persediaan senjata kimia yang cukup besar. Kekhawatiran muncul di antara negara-negara tetangga Suriah dan Barat terkait nasib senjata-senjata kimia itu jika rezim Assad runtuh.

Selain soal senjata kimia, Nawaf juga memaparkan kelompok militan yang terkait Al-Qaeda bekerja sama dengan pemerintah mengatur berbagai serangan terhadap oposisi.

Kolaborasi tetap terjadi meski pemerintah Suriah didominasi sekte minoritas Allawite.

"Banyak bukti dalam sejarah bahwa musuh bisa erkolaborasi saat memiliki kepentingan yang sama," papar Nawaf.

"Al-Qaeda sedang mencari ruang untuk bergerak dan dukungan sarana. Sementara itu, Rezim pemerintah mencari cara untuk meneror rakyat Suriah," tambah dia

Nawaf Fares adalah salah satu tokoh terpenting pemerintah yang membelot sejak pemberontakan terhadap pemerintah Suriah meletus.

Dia pernah menjabat berbagai posisi penting di tubuh partai Baath yang berkuasa dan pernah mengepalai dinas rahasia, selain menjadi gubernur di beberapa provinsi.

Elemen pemerasan

Sergei Lavrov

Menlu Rusia Sergei Lavrov menilai resolusi DK PBB atas Suriah penuh elemen pemerasan.

Sementara itu, utusan PBB-Liga Arab Kofi Annan dijadwalkan melakukan pembicaraan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin tentang masalah Suriah.

Rusia adalah sekutu terdekat Suriah dan pertemuan ini terjadi di tengah-tengah meningkatnya tekanan internasional terhadap Suriah untuk segera menghentikan kekerasan.

Namun, Nawaf Fares pesimistis misi Kofi Annan ke Rusia akan membuahkan hasil yang menggembirakan.

"Sudah berbulan-bulan berlalu, dan rezim Assad tak kunjung menerapkan satupun bagian dari rencana Annan," ujar Nawaf.

Namun, Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton kepada wartawan BBC Kim Ghattas mengatakan dia masih berharap Rusia bisa diyakinkan untuk mendukung resolusi PBB terkait sanksi bagi Suriah jika negeri itu gagal menerapkan rencana Kofi Annan.

Menlu Clinton mengatakan pemerintah AS bekerja sangat keras untuk menciptakan sebuah transisi yang teratur namun kekerasan yang kini berlangsung di sekitar Damaskus menunjukkan bahwa akhir rezim Assad tinggal menunggu waktu.

Sedangkan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan Barat mengancam akan menghentikan misi pengamat di Suriah jika Moskow menentang rancangan resolusi DK PBB yang berisi lebih banyak sanksi.

Lavrov menyebut rancangan resolusi itu mengandung banyak elemen pemerasan.

Moskow bahkan menyebarkan sendiri rancangan resolusi yang menyerukan perpanjangan misi pengamat PBB yang akan berakhir pada Jumat (20/7) mendatang namun rancangan sanksi ini tanpa memuat sanksi.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.