Warga Spanyol demo tolak penghematan

Hak atas foto Reuters
Image caption Ribuan orang warga Spanyol di Madrid dan kota besar lainnya menggelar unjuk rasa menolak kebijakan penghematan pemerintah.

Polisi Spanyol menembakkan peluru karet untuk membubarkan kelompok pengunjuk rasa di pusat kota Madrid, yang mempertanyakan kebijakan pemerintah dalam menangani krisis ekonomi di negara itu.

Sebagian pengunjuk rasa, seperti dilaporkan kantor berita AFP, terlibat bentrok dengan aparat keamanan yang menggunakan pentungan, pada Kamis (19/07) waktu setempat.

Unjuk rasa yang dipusatkan di alun-alun Madrid, atau Puerta de Sol, digelar ribuan orang warga Spanyol yang mempertanyakan kebijakan penghematan untuk menyeimbangkan anggaran negara.

Sebelumnya pemerintah Spanyol berencana melakukan penghematan yang antara lain ditandai pemotongan subsidi, menaikkan pajak pertambahan nilai, serta pemotongan anggaran jaminan sosial dan tunjangan pengangguran.

Kebijakan inilah yang kemudian menuai protes warga Spanyol di sejumlah kota.

'Tidak adil'

Di Barcelona, seorang pegawai negeri sipil yang ikut unjuk rasa, Victor Fermeiro mengatakan, pemotongan subsidi yang dilakukan pemerintah seharusnya dibuat lebih selektif.

"Seharusnya subsidi yang dinikmati pegawai negeri rendahan, yang berupah kecil, jangan terkena dari kebijakan ini," kata Victor.

Seorang pengunjukrasa di Madrid, yang juga PNS, Victorio Rivero mengatakan, tidak tepat melakukan langkah penghematan di tengah membumbungnya harga kebutuhan pokok sehari-hari.

"Ketika krisis mulai, kami bisa mengerti ketika pemerintah menurunkan gaji kami. Kami tidak protes. Tapi sekarang, kebijakan penghematan itu sangat memukul kami. Ini tidak adil, dan karenanya saya hadir dalam unjuk rasa ini... ".

Dalam aksinya, para demonstran menutup sejumlah jalan protokol seraya meneriakkan slogan menolak kebijakan pemotongan anggaran.

Polisi di Madrid mengatakan, unjuk rasa ini melibatkan sedikitnya empat puluh ribu orang, tetapi penanggungjawab demo menyebut aksi ini melibatkan sedikitnya enam ratus ribu orang.

Berita terkait