Australia: Kapal pencari suaka hilang, kemungkinan tenggelam

asylum seeker Hak atas foto Reuters
Image caption Ilustrasi. Kapal itu berangkat dari Indonesia pada bulan Juni

Australia mengatakan sebuah kapal pencari suaka berpenumpang 67 orang yang berangkat dari Indonesia sekitar satu bulan lalu kemungkinan tenggelam dalam perjalanan ke Australia.

Informasi itu disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri Jason Clare pada televisi Australia, seperti dilaporkan kantor berita Reuters.

"Tidak ada bukti bahwa mereka telah tiba di Australia," kata Clare, menambahkan bahwa Australia "sangat khawatir" dengan nasib para pencari suaka tersebut.

Sejak 2001, lebih dari 1.000 orang meninggal dunia di laut dalam upaya mereka mencapai Australia dengan kapal yang kelebihan muatan dan tidak laik layar dari Indonesia.

Sementara itu kantor berita AFP melaporkan bahwa kapal itu membawa penumpang asal Afghanistan, Irak, Iran dan Sri Lanka. Kapal tersebut terdeteksi di perairan Indonesia pada bulan Juni lalu dan belum terdengar lagi kabarnya hingga sekarang.

"Sayangnya, kami tidak menemukan bukti bahwa mereka telah tiba di Australia," kata Clare.

"Kami juga berusaha memastikan nasib para penumpang kapal dengan menghubungi pejabat Indonesia tetapi mereka juga tidak memiliki informasi," kata dia.

Posko lepas pantai

Sementara itu, kemarin Australia membahas rencana untuk membuat posko lepas pantai untuk mendata pencari suaka di Nauru dan Papua Nugini, serta "mengejar" perjanjian pencari suaka dengan Malaysia, kata sebuah panel.

Panel independen beranggotakan tiga orang itu ditunjuk oleh PM Julia Gillard untuk memecahkan kebuntuan pemerintah dalam isu tersebut.

Australia mencatat ada peningkatan jumlah pencari suaka yang datang dengan kapal dalam beberapa bulan terakhir.

Sedikitnya 170 orang tiba dengan tiga kapal sepanjang akhir pekan ini, kata sebuah laporan.

Panel itu mengatakan rekomendasi mereka bertujuan untuk membuat orang mencari suaka melalui jalur-jalur resmi dan mengurangi kedatangan kapal ilegl.

Implementasi rencana ini akan menelan biaya sekitar satu miliar dollar Australia pertahun.

Berita terkait