Pemerintah Birma akui ada pembakaran di Rakhine

Terbaru  28 Oktober 2012 - 10:53 WIB
Bekas kota Pauktaw

Respon pemerintah Birma terhadap pecahnya kekerasan dianggap tak memadai.

Pemerintah Birma mengakui terjadi penghancuran besar-besaran terhadap wilayah di bagian barat negeri itu akibat kekerasan etnis.

"Terjadi insiden dimana seisi desa dan sebagian kota dibakar habis di Negara Bagian Rakhine," kata juru bicara Presiden Thein Sein kepada BBC.

Pernyataannya muncul setelah lembaga kemanusiaan Human Rights Watch merilis serangkaian foto satelit yang menunjukkan hancurnya ratusan bangunan, dan itu baru di kota pesisir Kyaukpyu saja.

Laporan HRW menyebut korban kasus kekerasan ini adalah kelompok Muslim Rohingya, yang jadi sasaran tindakan brutal kelompok non-Muslim.

Juru bicara presiden, Zaw Htay kepada BBC mengatakan pemerintah memperketat pengamanan di wilayah Rakhine, yang juga dikenal sebagai daerah Arakan.

"Jika dipandang perlu, kami akan kirim lebih banyak tentara dan polisi untuk mengembalikan stabilitas," janjinya.

Ketegangan sudah lama terjadi antara warga etnis Rakhine, yang menjadi mayoritas warga Negara Bagian Rakhine, dan kelompok Muslim, sebagian besar dari etnis Rohingya dan tak punya kewarganegaraan.

Menurut pemerintah Birma suku Rohingya adalah pendatang haram sementara secara umum, golongan etnis ini dimusuhi warga setempat.

Tinggal tiang

Foto satelit yang dirilis HRW, lembaga yang berasal dari AS, menunjukkan rekaman keadaan distrik Kyaukpyu pada tanggal 9 Oktober, serta 25 Oktober.

Pada 9 Oktober, ratusan rumah berhimpitan dapat dilihat di semenangjung, begitu pula barisan rumah-rumah kapal di sepanjang pesisir bagian utara.

Namun pada foto yang diambil Kamis (25/10) lalu, tinggal nampak beberapa buah kapal sementara distrik seluas 35 hektar ini nampak hampir kosong tanpa rumah.

Tentara Birma

Pemerintah pusat mengirim tentara dan polisi serta menerapkan jam malam.

HRW memperkirakan sebagian besar warga menyelamatkan diri ke laut.

Seorang wartawan lokal yang mengunjungi lokasi ini mengatakan pada BBC siaran Burma bahwa lokasi ini dibakar habis, beberapa bangunan tinggal berwujud puing hangus.

Di satu distrik dimana sebelumnya diduga dihuni lebih dari 3.000 orang, yang tersisa tinggal tiang-tiang gosong bekas rumah dan arang dari pokok pohon.

Menurut pemerintah jumlah korban jiwa akibat kekerasan terakhir ini mencapai 82 orang, 129 lainnya luka-luka, dan hampir 3.000 rumah hangus tanpa sisa.

Serangan ini merupakan aksi kekerasan pertama yang pecah sejak Juni lalu dinyatakan status darurat di Rakhine.

HRW menduga jumlah korban jauh lebih besar dari yang diumumkan pemerintah Birma, berdasarkan pada pernyataan saksi mata serta "kebiasaan pemerintah yang terbukti menurut sejarah kerap memperkecil angka karena khawatir menjadi sasaran kritik".

Kelompok non-Muslim setempat juga melaporkan mereka turut jadi korban tembakan tentara pemerintah sepanjang bentrokan terjadi dan turut menanggung korban.

Pemerintah menyatakan sudah mengenakan status jam malam di lokasi kekerasan namun respon terhadap kekerasan tersebut terus dikritik karena dianggap tak memadai.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.