Isu lapangan kerja di mata pemilih muda

Terbaru  3 November 2012 - 11:00 WIB
Kampus di Kentucky

Anak-anak muda di Amerika Serikat khawatir atas masa depan mereka.

Mathew Connor memang baru saja memulai kuliah di Chicago.

Namun pikirannya terganggu dengan kemungkinan sulitnya mencari kerja ketika ia lulus nanti.

''Masalah lapangan kerja sangat penting bagi para pemilih pemula seperti saya,'' kata Connor, saat ditemui di kampus Universitas Northwestern, di pinggiran utara kota Chicago.

''Saya tentu berharap begitu lulus saya segera mendapatkan pekerjaan,'' kata Connor. Kekhawatiran Connor bisa dipahami.

Tingkat pengangguran di Amerika Serikat tergolong tinggi, sekitar 7,9%, menurut data yang dikeluarkan Departemen Tenaga Kerja AS pada pekan pertama November 2012.

Lesunya ekonomi sejak pemerintahan George W. Bush dan berlanjut di bawah Presiden Barack Obama membuat orang sulit mencari kerja.

Bagi yang saat ini memiliki kerja, mereka dihantui ketakutan jangan-jangan mereka akan terkena PHK.

Dimanfaatkan Romney

"Saya tidak tahu apakah akan tersedia lapangan kerja untuk saya nanti. Ekonomi lesu dan sulit tentunya bagi pemerintah untuk menjamin lapangan kerja bagi kalangan muda seperti saya"

Farah Salgado

Para pengamat mengatakan kekhawatiran ini dimanfaatkan Mitt Romney, calon presiden dari kubu Republik.

Di berbagai kesempatan, Romney mengatakan latar belakangnya sebagai pengusaha membuat dirinya lebih baik dibanding Obama untuk mengurusi ekonomi.

Di mata Connor, baik Obama maupun Romney memiliki platform lapangan kerja yang baik, yang pada akhirnya membuat pasar kerja di AS bertambah 12 juta dalam periode empat tahun ke depan.

''Namun saya meyakini Obama memiliki rencana yang lebih baik dibanding Romney,'' kata Connor.

Bila Connor cukup yakin dengan kebijakan tenaga kerja Obama, tidak demikian halnya dengan Farah Salgado.

''Saya tidak tahu apakah akan tersedia lapangan kerja untuk saya nanti. Ekonomi lesu dan sulit tentunya bagi pemerintah untuk menjamin lapangan kerja bagi kalangan muda seperti saya,'' kata Salgado.

Ia mengatakan ekonomi di bawah Obama dalam empat tahun terakhir membaik, namun laju perbaikan ekonomi tidak secepat yang diinginkan.

Lapangan kerja menjadi isu penting bagi pemilih pemula seperti Salgado dan Connor.

Antusiasme turun

Namun jajak pendapat yang dilakukan Pusat Riset Pew menunjukkan antusiasme para pemilih muda tidak sebesar empat tahun lalu.

Proporsi pemilih muda -berusia antara 18-29 tahun- yang mengikuti perkembangan pilpres kali ini menurun 17% dari 56% menjadi 48%.

Jumlah yang mengaku akan mencoblos juga menurun dari 72% menjadi 63%.

Matthew Connor, mahasiswa di Universitas Northwestern, Chicago, merasakan bahwa antusiasme di kalangan pemilih muda tidak sebesar empat tahun.

''Ketika itu ada perasaan bahwa Amerika mencatat sejarah dengan memilih presiden pertama dengan latar belakang Afrika,'' kata Connor.

Namun ia mengatakan semestinya kalangan muda tidak apatis terhadap proses politik seperti pilpres.

''Justru kalangan muda harus memanfaatkan hak politik ini. Dengan begitu isu-isu yang terkait dengan kami, seperti biaya kuliah dan lapangan kerja, bisa lebih diperhatikan oleh para politisi,'' kata Connor.

''Kalau blok pemilih muda ini terus bertambah, tidak hanya bertambah tapi juga menggunakan hak suara secara semestinya, para politisi tidak bisa mengabaikan aspirasi kami,'' tandasnya.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.