AS izinkan tentara wanita bertempur di garis depan

  • 24 Januari 2013
us female soldier
Empat belas persen dari 1,4 personil militer aktif AS adalah perempuan

Menteri Pertahanan AS Leon Panetta memutuskan untuk mencabut larangan terhadap perempuan ikut bertempur di medan perang, kata seorang pejabat senior Pentagon.

Langkah itu dapat membuka ratusan ribu posisi garis depan dan pekerjaan komando elit pada perempuan.

Kebijakan tersebut sekaligus menjungkirbalikkan peraturan tahun 1994 yang melarang perempuan ditugaskan ke unit-unit tempur darat.

Tapi militer masih punya waktu hingga 2016 untuk menimbang posisi-posisi apa yang mereka pikir harus tetap ditutup untuk perempuan.

Keputusan itu diperkirakan akan diumumkan secara resmi pada hari Kamis.

Gugatan hukum

Pejabat pertahanan senior itu mengatakan pada BBC, "Perubahan kebijakan ini akan memulai proses dimana militer akan mengembangkan rencana untuk mengimplementasikan keputusan yang dibuat oleh menteri pertahanan atas rekomendasi Kepala Staf Gabungan."

Para pemimpin militer akan diminta untuk melapor ke Panetta pada 15 Mei dengan rencana awal mereka mengenai penerapan kebijakan baru ini.

Sejumlah pekerjaan diperkirakan akan dibuka untuk wanita tahun ini, sedangkan yang lainnya, termasuk untuk pasukan khusus seperti Navy Seals dan Delta Force masih akan memakan waktu.

Keputusan ini dapat membuka lebih dari 230.000 peran di medan perang bagi perempuan, sebagian besar di unit infantri.

Kepala komite institusi bersenjata Carl Levin menyambut gembira keputusan itu.

"Saya mendukungnya," kata dia. "Kebijakan ini mencerminkan operasi militer Abad 21."

Larangan pertama kali dilonggarkan satu tahun silam, ketika Pentagon membuka 14.500 pekerjaan dekat ke garis depan, yang sebelumnya tertutup bagi personil perempuan.

November lalu, kelompok yang terdiri dari empat wanita di militer menggugat departemen pertahanan terkait larangan itu, dan menuduhnya tidak konstitusional.

Salah satu penggugat adalah Kapten Marinir Zoe Bedell. Ia mengatakan peraturan tersebut menghambat kemajuan karirnya di Marinir.

Dalam perang Irak dan Afghanistan, personil militer perempuan AS bekerja sebagai petugas medis, polisi militer dan petugas intelijen, terkadang mereka diperbantukan tapi tidak secara resmi ditugaskan ke unit garis depan.

Pada 2012, lebih dari 800 perempuan terluka dalam kedua perang itu, dan 130 orang tewas.

Perempuan meliputi 14% dari personil militer aktif Amerika.

Berita terkait