Pasca kerusuhan, tentara dikirim ke Suez

Mesir
Image caption Pengunjuk rasa menuntut Morsi mundur dari jabatan sebagai Presiden.

Pasukan tentara Mesir dikirimkan ke Suez dan Presiden Mohammed Morsi menyerukan agar masyarakat tenang pasca tewasnya tujuh orang dalam unjuk rasa memperingati dua tahun revolusi Mesir.

Enam orang tewas di Suez dan satu orang di Ismailia dalam bentrokan polisi dengan pengunjuk rasa di sejumlah kota di Mesir.

Sejumlah kritik dilayangkan kepada Morsi yang disebut mengkhianati revolusi yang menggulingkan mantan Presiden Hosni Mubarak.

Presiden menolak klaim oposisi yang menyebutkan berlaku tidak adil.

Malahan, dia meminta agar dilakukan dialog nasional, dan pada Sabtu (26/1) Morsi mendesak agar para penentangnya menghentikan kekerasan.

Dalam pesan yang disampaikan melalui Twitter, dia meminta agar masyarakat Mesir "untuk setia kepada nilai-nilai revolusi (dan) mengekspresikan pendapat dengan bebas dan damai".

Di Suez, pasukan tentara yang dilengkapi dengan kendaraan lapis baja berjaga di depan gedung-gedung pemerintah.

"kami telah meminta pasukan tentara untuk mengirimkan personil di lapangan sampai kita melalui masa sulit ini," kata kepala keamanan negara di Suez, Adel Refaat, kepada televisi pemerintah.

Di pusat kota Kairo, bentrokan antara pengunjuk rasa dan polisi dilaporkan terjadi kembali pada Sabtu (26/1).

Ekonomi memburuk

Image caption Kerusuhan terjadi di Kairo dan di 12 dari 27 provinsi yang ada di Mesir.

Sejumlah pengunjuk rasa masih berada di ibukota, dan mereka akan kembali ke rumah jika Morsi mundur dari jabatannya.

Jumat (25/1) lalu, dua tahun setelah penggulingan Mubarak, puluhan ribu orang kembali menyuarakan perbedaannya dengan Morsi dan pendukungnya di Ikhwanul Muslimin.

Lebih dari 450 orang terluka, menurut menteri kesehatan, dalam kerusuhan yang terjadi di 12 dari 27 provinsi di Mesir.

Tak diketahui secara pasti, bagaimana korban tewas terjadi di Suez.

Bentrokan terjadi di Alexandria dan Port Said.

Di Ismailia, membakar kantor pusat Partai Kebebasan dan Keadilan, yang merupakan kepanjangan tangan Ikhwanul Muslimin.

Oposisi liberal menuduh Morsi menjadi otokratik dan juga menyebabkan kondisi ekonomi memburuk.

Salah seorang pengunjuk rasa di Lapangan Tahrir Kairo, Momen Asour, mengatakan dia meminta agar pemerintahan Presiden Morsi mundur. "Kami tidak melihat apapun, tidak adanya kebebasan, tidak ada keadilan sosial, atau upaya untuk mengatasi pengangguran, atau investasi," kata dia.

"Kebalikannya, ekonomi memburuk."

Pengunjuk rasa yang lain, Hamoud Rashid, mengatakan protes ini merupakan "reaksi alami kepada negara yang menjadi lebih buruk dibandingkan ketika masa Mubarak."

"Mereka telah mencuri revolusi dari para revolusioner, dan kami disini akan mengambil kembali revolusi," kata dia.

Berita terkait